FeatureInspirasiLingkungan

Ketika Komunitas Motor Aksi Peduli Sampah

×

Ketika Komunitas Motor Aksi Peduli Sampah

Share this article

ANGGOTA komunitas motor tak selalu identik dengan ugal-ugalan di jalan. Setidaknya ditunjukkan oleh komunitas motor Vespa antik “NAJIS”, singkatan dari Nag Jhon Independen Scooter.

Saat mengaspal di jalan umum, kepeduliannya terhadap lingkungan, terutama sampah dipertontonkan dengan memunguti sampah plastik yang bertebaran di jalan.

Tersebutlah Zidan, salah seorang anggota “NAJIS” yang terpegok memungut sampah plastik lalu menmenggantungnya di kendaraan Vespa yang sudah dimodifikasinya sedemikian rupa.

Mudah saja bagi Zidan menggantung sampah plastik itu karena motor Vespanya yang dimodifikasi memiliki sekat-sekat dari temali. “Pungut, langsung masuk sekat,” ujar Zidan di Huntap Duyu.

Bagi Zidan dan anggota komunitas Vespanya, peduli dengan lingkungan tidak harus dari yang besar-besar, hal-hal kecil sekalipun sudah sangat berarti bagi kelestarian lingkungan.

Zidan dalam “NAJIS ”nya berharap, praktik positif seperti itu dapat pula menginspirasi komunitas lainnya kerena menurutnya, kelestarian lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama. (afd)

Editor: beritapalu
Penulis: beritapalu
Tanggal: 19 January, 2023
Seminar Hasil Kajian Spesies Ekosistem Mangrove, Perhutanan Sosial, dan Taman Hutan Raya (Tahura) Sulawesi Tengah yang diselenggarakan di Gedung Serbaguna Fakultas Kehutanan (Fahutan) Untad, Rabu (22/04/2026). (©ROA Sulteng)
Lingkungan

Hasil kajian ekosistem mangrove di kawasan Oncone Raya menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan, di mana dari luas sekitar 31,44 hektar, hanya sekitar 18,7% yang masih berupa vegetasi mangrove, sementara 50,3% telah beralih menjadi tambak dan 31% merupakan areal terbuka.

Siswa mengenakan baju tradisional berjalan di atas karpet pada fashion show merayakan Hari Kartini di SD Inpres Palupi, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (21/4/2026). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)
Feature

Suasana di SD Inpres Palupi, Palu, Selasa (21/4/2026) berbeda dari biasanya. Sejak pukul 07.30 WITA, satu per satu siswa berdatangan dengan balutan pakaian tradisional. Anak laki-laki mengenakan batik, beberapa lengkap dengan peci atau penutup kepala khas daerah, sementara anak perempuan tampil anggun dengan kebaya dan busana tradisional beragam warna.