Mengingat, Menjaga, Merayakan Kebudayaan Poso di Festival Mosintuwu
Share this article
Warga suku Bada mengeringkan topi tradisional berbahan daun rumbia di depan Rumah Tambi pada Festival Mosintuwu di Tentena, Poso, Sulawesi Tengah. bmzIMAGES/Basri Marzuki
Warga lintas suku membawa hasil pertaniannya pada karnaval hasil bumi menandai pembukaan Festival Mosintuwu di Tentena, Poso, Sulawesi Tengah, Rabu 99/11/2022). bmzIMAGES/Basri Marzuki
Warga lintas suku mengusung hasil pertaniannya untuk saling berbagi kepada suku lainnya di Festival Mosintuwu di Tentena, Poso, Sulawesi Tengah. bmzIMAGES/Basri Marzuki
Warga lintas suku membawa hasil pertaniannya untuk saling berbagi kepada suku lainnya di Festival Mosintuwu di Tentena, Poso, Sulawesi Tengah. bmzIMAGES/Basri Marzuki
Perempuan lintas suku menari “Modero” usai berbagi hasil bumi pada Festival Mosintuwu di Tentena, Poso, Sulawesi Tengah. bmzIMAGES/Basri Marzuki
Warga lintas suku membawa hasil pertaniannya untuk saling berbagi kepada suku lainnya di Festival Mosintuwu di Tentena, Poso, Sulawesi Tengah. bmzIMAGES/Basri Marzuki
Warga lintas suku berbagi kepada suku lainnya di Festival Mosintuwu di Tentena, Poso, Sulawesi Tengah. bmzIMAGES/Basri Marzuki
Warga suku Bada mengeringkan topi tradisional berbahan daun rumbia di depan Rumah Tambi pada Festival Mosintuwu di Tentena, Poso, Sulawesi Tengah. bmzIMAGES/Basri Marzuki
Warga adat menunjukkan uang “Woyo” pada Festival Mosintuwu di Tentena, Poso, Sulawesi Tengah. Woyo adalah uang yang terbuat dari bambu sebagai alat transaksi selama festival berlangsung. bmzIMAGES/Basri Marzuki
Warga suku Mori memasak makanan kampung dalam tradisi Moapu pada Festival Mosintuwu di Tentena, Poso, Sulawesi Tengah. Moapu adalah tradisi memasak ala suku Mori dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar lingkungannya, terutama hutan. bmzIMAGES/Basri Marzuki
Warga suku Bada meramu bahan makanan kampung dalam tradisi Moapu pada Festival Mosintuwu di Tentena, Poso, Sulawesi Tengah. Moapu adalah tradisi memasak ala suku Mori dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar lingkungannya, terutama hutan. bmzIMAGES/Basri Marzuki
Warga adat lintas suku menyantap makanan dalam tradisi Molimbu pada Festival Mosintuwu di Tentena, Poso, Sulawesi Tengah. Molimbu adalah tradisi makan bersama oleh para tetua adat yang bahan makanannya disajikan oleh empat suku yang berbeda. bmzIMAGES/Basri Marzuki
Remaja memainkan tari Tarompio pada Festival Mosintuwu di Tentena, Poso, Sulawesi Tengah. Setiap suku masing-masing menampilkan atraksi seni khas dari sukunya. bmzIMAGES/Basri Marzuki
Wakil adat suku Napu memainkan Kayori atau ceita rakyat pada Festival Mosintuwu di Tentena, Poso, Sulawesi Tengah. Kayori adalah tradisi bercerita yang lazim dilakukan oleh warga suku Napu dalam perayaan adat tertentu. bmzIMAGES/Basri Marzuki
Warga adat suku Bada menunjukkan Ale atau tikar yang terbuat dari daun Tiu, sejenis daun rumput rawa pada Festival Mosintuwu di Tentena, Poso, Sulawesi Tengah. Ale tersebut digunakan sebagai alas duduk para tetua adat saat perjamuan makan di acara adat. bmzIMAGES/Basri Marzuki
Deretan rumah-rumah Tambi khas Poso pada Festival Mosintuwu di Tentena, Poso, Sulawesi Tengah. Rumah tambi adalah rumah adat khas suku Pamona, Bada, Mori, dan Napu yang selain digunakans ebagai rumah tinggal juga sebagai tempat menyimpan persediaan makanan. bmzIMAGES/Basri Marzuki
RATUSAN warga dari empat suku yang mendiami lembah Poso yakni Pamona, Bada, Mori, dan Napu dari 20 desa menyesaki Tugu Massapi di Taman Kota Tentena, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Rabu (9/11/2022).
Mereka membawa hasil bumi mereka dan juga Padengko dan Rere – alat musik tabuh terbuat dari bambu. Pagi itu, mereka menggelar karnaval hasil bumi menandai pembukaan Festival Mosintuwu yang berlangsung 9-12 November 2022.
Hasil bumi pada karnaval itu dibawa dari desa-desa mereka, ditenteng, diusung, bahkan dipikul menyusuri jalan-jalan menuju lokasi festival. Lagu “Desaku yang Kucinta” ciptaan L Manik terus berkumandang bergantian dengan theme song “Tanah, Air, dan Hutan” ciptaan Lian Gogali dan diaransemeni Guritan Kadubul.
Karnaval hasil bumi itu adalah simbolisasi menghadirkan kembali ingatan tentang kebaikan alam dan kekayaan kebudayaan dalam pengelolaan alam.
Kegiatan itu juga menjadi proklamasi kebudayaan dari desa-desa atas kekuatan kebudayaan Mosintuwu (bekerja bersama-sama) yang memiliki pengetahuan, kearifan dalam pengelolaan alam dan kehidupan dengan nilai pombepatuwu (saling menghidupkan), pombepotowe (saling mengasihi), dan pombetubunaka (saling menghargai).
Festival yang tiga tahun sebelumnya absen karena pandemi COVID-19 digelar Kembali sebagai ruang berdialog sekaligus saling menguatkan, bekerjasama dan menemukan cara belajar dan bekerja dengan menempatkan masyarakat desa bersama dengan alamnya yang harus selaras.
Lebih dari itu, festival itu menjadi ruang yang mempertontonkan kekuatan perempuan dan masyarakat yang tidak hanya diakui dan menjadi salah satu penentu dalam pengelolaan desa, namun juga ruang untuk menggelisahkan pengelolaan pangan lokal di desa dan menjadi tempat dimana perjuangan atas kedaulatan dimulai.
Molimbu (makan bersama), Mobolingoni (cerita rakyat), Kayori (syair rakyat), Molaolita (dongeng kampung), Moapu (masakan kampung), Mompasimbaju (diskusi desa), Berbagi Hasil Bumi, Jelajah Budaya, Pasar dan Warung Desa, Lumbung Bibit adalah rangkaian kegiatan selama festival tersebut. Keseluruhan rangkaian kegiatan tersebut adalah upaya untuk mengingat, menjaga, dan merayakan kebudayaan Tana Poso.
Kebudayaan Poso yang memaktubkan kekayaan dan keberagaman dalam keselarasan dengan alam menjadi penanda dan seruan kebersamaan, bahwa alam telah menyediakan pangan, sandang, dan papan, dan tak seharusnya dirusak untuk kepentingan sesaat, karena Tana Poso untuk kini dan esok.
PT Vale Indonesia Tbk melalui Indonesia Growth Project (IGP) Morowali menggelar kegiatan penanaman pohon dan aksi bersih pantai di kawasan Jetty Port Bahomotefe, Morowali, untuk memperingati Hari Bumi Sedunia 2026, Selasa (22/04/2026).
Hasil kajian ekosistem mangrove di kawasan Oncone Raya menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan, di mana dari luas sekitar 31,44 hektar, hanya sekitar 18,7% yang masih berupa vegetasi mangrove, sementara 50,3% telah beralih menjadi tambak dan 31% merupakan areal terbuka.
Suasana di SD Inpres Palupi, Palu, Selasa (21/4/2026) berbeda dari biasanya. Sejak pukul 07.30 WITA, satu per satu siswa berdatangan dengan balutan pakaian tradisional. Anak laki-laki mengenakan batik, beberapa lengkap dengan peci atau penutup kepala khas daerah, sementara anak perempuan tampil anggun dengan kebaya dan busana tradisional beragam warna.
Institute for Essential Services Reform (IESR) mendesak pemerintah untuk segera meninjau ulang Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 11 Tahun 2026 terkait pajak kendaraan bermotor.
Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) resmi mencopot Livand Breemer dari jabatannya sebagai Kepala Sekretariat Komnas HAM Perwakilan Provinsi Sulawesi Tengah. Tindakan tegas ini diambil setelah tim pemeriksa menemukan bukti pelanggaran disiplin Pegawai Negeri Sipil (PNS).