beritapalu.id
Monday, 23 Mar 2026
🌐 Network
pojokPALU pojokPALU pojokSIGI pojokSIGI pojokPOSO pojokPOSO pojokDONGGALA pojokDONGGALA pojokSULTENG pojokSULTENG bisnisSULTENG bisnisSULTENG bmzIMAGES bmzIMAGES rindang.ID rindang.ID
Subscribe
beritapalu.ID
  • HOME
  • HEADLINE
  • PALU
  • SULTENG
    • Sigi
    • Poso
    • Buol
    • Tolitoli
    • Banggai
    • Morowali
    • Donggala
    • Tojo Unauna
    • Banggai Laut
    • Morowali Utara
    • Parigi Moutong
    • Banggai Kepualuan
  • BISNIS
  • POLITIK
  • LINGKUNGAN
  • OLAHRAGA
  • INSPIRASI
  • 🌐
  • Hukum-Kriminal
  • Seni-Budaya
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Religi
  • Style
  • Region
  • Militer
  • Opini
  • Travel
  • Visual
  • Komunitas
📂 Lainnya ▼
Indeks Feature Advertorial Liputan Khusus
beritapalu.IDberitapalu.ID
Search
  • HOME
  • HEADLINE
  • PALU
  • SULTENG
    • Sigi
    • Poso
    • Buol
    • Tolitoli
    • Banggai
    • Morowali
    • Donggala
    • Tojo Unauna
    • Banggai Laut
    • Morowali Utara
    • Parigi Moutong
    • Banggai Kepualuan
  • BISNIS
  • POLITIK
  • LINGKUNGAN
  • OLAHRAGA
  • INSPIRASI
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Opini

Manusia di Hadapan Standar Negara: Kisah Inspiratif Rosita Aruan Orchid Baptiste

Published: 5 February, 2026
Share
Rosita Aruan Orchid Baptiste, Perempuan Batak yang jadi Letnan Kolonel di Amerika Serikat. (©Youtube VOA Indonesia)
Rosita Aruan Orchid Baptiste, Perempuan Batak yang jadi Letnan Kolonel di Amerika Serikat. (©Youtube VOA Indonesia)
SHARE
Rafael Lumintang (dok. pribadi)
Rafael Lumintang (dok. pribadi)

Oleh: Rafael Lumintang

Berita nasional kembali dihebohkan dengan bergabungnya Kezia Syifa, warga negara Indonesia, menjadi tentara Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army). Dari peristiwa ini muncul berbagai interpretasi, ada pihak yang pro dan ada juga yang kontra. Namun, bergabungnya Syifa bukanlah peristiwa pertama kali terjadi di Indonesia. Kisah serupa telah muncul sebelumnya dari seorang perempuan tangguh asal Sumatera bernama Rosita Aruan Orchid Baptiste.

Perjalanan Panjang Mencari Pengakuan

Seperti dilansir media, Rosita dalam video di kanal YouTube Toba TV, mengungkapkan perjalanan hidupnya yang panjang mencari pengakuan di tanah air. “Saya lulusan USU Sumatera Utara, pernah bekerja di salah satu perusahaan di Indonesia, juga pernah menjadi wartawan. Saya ingin menjadi jaksa tetapi tidak bisa karena ada persyaratan tinggi badan. Sempat ingin menjadi polwan juga tetapi tidak memungkinkan dengan badan pendek seperti saya. Intinya, dengan melihat badan saya yang mungil hanya 150 cm, sudah di-stop duluan.”

Siapa yang menyangka bahwa meskipun memiliki tinggi badan yang tidak memadai menurut standar Indonesia, perempuan asal Sumatera ini justru berhasil menjadi tentara Angkatan Darat di Amerika Serikat. Rosita memutuskan untuk bergabung dengan militer AS, sebuah langkah yang mengubah arah hidupnya secara drastis. Meskipun menghadapi berbagai rintangan, termasuk adaptasi budaya dan bahasa, Rosita berhasil meniti karier dengan dedikasi dan kerja keras. Kini, dengan pangkat Letnan Kolonel, ia bertugas sebagai mekanik di Angkatan Darat Amerika Serikat.

BACA JUGA:  Aren, Transisi Energi, dan Pencegahan Banjir untuk Aceh

Ironi Penolakan dan Pengakuan

Kisah Rosita Aruan menyimpan ironi yang menampar nurani. Di negerinya sendiri, ia dinyatakan tidak memenuhi syarat menjadi polwan karena “tinggi badan.” Namun, ceritanya menjadi berbeda di negeri Paman Sam. Di Amerika Serikat, Rosita justru diterima dan bahkan dipercayai sebagai Letnan Kolonel tentara darat. Dalam terang pemikiran filosofis Emmanuel Levinas, kisah ini bukanlah sekadar persoalan “kebijakan rekrutmen,” melainkan soal kegagalan etika struktural dalam berjumpa dengan manusia konkret.

Dalam proses seleksi menjadi aparat negara, Rosita secara implisit bukan berhadapan dengan manusia, melainkan dengan sistem. Tinggi badan menjadi penentu kelayakan, seolah kecakapan, tanggung jawab, dan integritas dapat direduksi menjadi “angka.” Dalam hal ini, wajah Rosita Aruan, kalau dilihat dalam kacamata filosofis Levinas, jauh menghilang. Negara tidak melihat manusia yang hadir, melainkan data yang harus sesuai standar.

Wajah sebagai Panggilan Etis

Bagi Emmanuel Levinas, wajah adalah panggilan etis yang mendahului hukum. Wajah menuntut tanggung jawab bahkan sebelum penilaian apa pun dilakukan. Namun dalam pengalaman perempuan hebat ini, sistem struktural negara gagal menangkap panggilan itu. Rosita tidak ditolak sebagai pribadi yang utuh, melainkan ditolak sebagai “ukuran.” Penolakan objektif ini justru menyingkap persoalan fundamental: “negara berhenti berjumpa dengan manusia dan mulai mengelola tubuh.”

BACA JUGA:  Dongi-Dongi: Ketika Tambang, Narasi “Enclave”, dan Keberanian Negara Diuji

Filsuf Prancis ini mengafirmasi bahwa “etika mendahului hukum.” Namun, pengalaman Rosita Aruan terkesan paradoks. Aturan justru mendahului negara. Negara lebih setia pada “sistem prosedur” daripada pertanyaan moral, seperti apakah standar fisik sungguh-sungguh menentukan kemampuan seseorang untuk mengabdi dan memikul tanggung jawab publik.

Ketaatan Prosedural versus Keadilan Manusiawi

Dengan mengikuti kriteria yang ada, negara melepaskan tanggung jawab etisnya. Penolakan terhadap Rosita Aruan dianggap sah karena “sesuai prosedur atau aturan mainnya.” Padahal, dalam paradigma filosofis Levinas, hukum yang tidak lahir dari perjumpaan etis justru kehilangan maknanya. Rosita kalah bukan karena tidak mampu, melainkan karena negara memilih ketaatan prosedural ketimbang keadilan manusiawi.

Kisah Rosita yang gagal menjadi polwan karena “ukuran badan” tidak menunjukkan penolakan berbentuk kekerasan fisik. Tidak ada teriakan, tidak ada hukuman. Namun, Levinas mengingatkan bahwa mengabaikan wajah yang lain adalah bentuk “kekerasan etis.” Rosita Aruan mengalami pengalaman “tidak cukup” bukan karena kekurangan moral atau kapasitas, tetapi karena negara menutup diri dari tanggung jawab etis.

BACA JUGA:  Tidur 500 Tahun

Pengakuan dari Negeri Lain

Ironi terbesar justru hadir di sini: pengakuan datang dari negara lain. Di Amerika Serikat, perempuan hebat ini dilihat sebagai manusia yang mampu bertanggung jawab, bukan sekadar tubuh yang harus sesuai ukuran. Tragedi terbesar bukan pada kepergian Rosita Aruan, melainkan pada negara yang gagal mengenali warganya sendiri, gagal melihat wajah sebelum mengukur tubuh.

Refleksi untuk Masa Depan

Dari pengalaman inspiratif Rosita Aruan seharusnya menggugah refleksi mendalam tentang cara negara “memandang manusia.” Bagi Levinas, keadilan tidak diukur dari ketepatan prosedur, melainkan dari “keberanian negara untuk bertanggung jawab terhadap manusia konkret yang berjuang dan berdiri di hadapannya.”

Perjuangan Rosita sejatinya merupakan notifikasi yang keras bagi negara dalam “perbaikan sistem prosedur yang ada.” Selama penggaris lebih dipercaya daripada perjumpaan etis, kisah seperti Rosita Aruan akan terus muncul—sah secara administratif, tetapi rapuh secara moral.

Refleksi atas kisah Rosita Aruan mengajak kita untuk mempertanyakan kembali: apakah standar yang kita terapkan benar-benar melayani keadilan, atau justru menjauhkan kita dari wajah manusia yang membutuhkan pengakuan?

*) Penulis adalah mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira, Nusa Tenggara Timur

 

Reporter: Rafael Lumintang

Editor: beritapalu

TAGGED:rafael lumintangRosita Aruan Orchid Baptiste
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp LinkedIn Email Copy Link
Previous Article Steve Smith, UK International Education Champion, hadir di Think TNE Forum 2026 sebagai Keynote Speaker di Forum yang diinisiasi oleh British Council ini merupakan platform dialog terkemuka di Asia Timur yang mempertemukan para pemimpin pendidikan tinggi dari Inggris dan Asia Timur untuk membentuk masa depan pendidikan transnasional (TNE) melalui kemitraan multilateral. (©Britis Council) British Council Selenggarakan East Asia Education Week 2026 di Indonesia
Next Article Wawali Imelda Lilia a Muhidin (tengah bersama pengelola klinik menunjukkan naskah kesepakatan perpanjangan program Alpukat di Palu, Kamis (5/2/2026). (©Prokopim Setda Kota Palu/Iwan) Pemkot Palu Perpanjang Program ALPUKAT untuk Pendaftaran Anak Lahir

Berita Terbaru

Penumpang turun dari KM Dorolonda di Pantoloan, Senin (23/3/2026). (©Humas Polda Sulteng)
Palu

Arus Balik Lebaran, KM Dorolonda Turunkan 512 Penumpang di Pantoloan

23 March, 2026
Vlad Alexandru Tataru (kedua kiri), WAN Jerman dideportasi oleh Imigrasi Palu, Senin 23/3/2026). (©DItjen Imigrasi Palu)
Hukum-Kriminal

Kumpulkan Flora TNLL Tanpa Izin, WNA Jerman Dideportasi dari Palu

23 March, 2026
Sejumlah warga berisap menaiki bus TransPalu di Palu, Senin (23/3/2026). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)
Feature

Tamasya Keliling Kota dengan Bus TransPalu, Gratis

23 March, 2026
Wali Kota Hadianto mengamati trotoar di Jalan Suiprapto Palu, Senin (23/3/2026). (©Prokopim Setda Kota Palu/Imron)
Palu

Usai Lebaran, Wali Kota Palu Susuri Jalan Protokol Pantau Kondisi Kota

23 March, 2026
Warga keturunan Arab menari pad atradisi Iwwadh di palu, Minggu (22/1/2026). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)
Feature

Iwwadh, Ketika Komunitas Arab Palu Merayakan Lebaran dengan Cara Mereka

22 March, 2026

Berita Populer

Sejumlah warga berisap menaiki bus TransPalu di Palu, Senin (23/3/2026). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)
Feature

Tamasya Keliling Kota dengan Bus TransPalu, Gratis

23 March, 2026
Operasi pencarian nelayan hilang di perairan Desa Lanona yang dihentikan karena tak membuahkan hasil. (©Basarnas Palu)
Morowali

7 Hari Dicari Tak Ditemukan, Operasi SAR Nelayan Hilang di Morowali Ditutup

21 March, 2026
Penumpang turun dari KM Dorolonda di Pantoloan, Senin (23/3/2026). (©Humas Polda Sulteng)
Palu

Arus Balik Lebaran, KM Dorolonda Turunkan 512 Penumpang di Pantoloan

23 March, 2026
Kapolda SUlteng Irjen Pol Endi Sutendi (tengah) bersama akapolda Sulteng Brigjen Pol. Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf pada shalat Id bersama diMapolda Sulteng, Sabtu (21/3/2026). (©Humas Polda Sulteng)
Palu

Kapolda Sulteng dan Ribuan Jamaah Gelar Shalat Id di Mako Polda

21 March, 2026
Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid (ketiga kiri) bersama Gubernur Sulteng periode 2021-2024, Rusdy Mastura membaca naskah khutbah tertulis usai melaksanakan shalat Id di Lapangan Vatulemo Palu, Sabtu (21/3/2026). (©Prokopim Setda Kota Palu/Jufri)
Palu

Mantan Gubernur Rusdy Mastura Lebih Memilih Shalat Id di Vatulemo

21 March, 2026

Logo BeritaPalu.id Akurat dan Terpecaya

Komitmen kami terhadap akurasi, netralitas, keberimbangan, dan penyampaian berita terkini telah membangun kepercayaan dari banyak audiens. Terdepan dengan pembaruan terkini tentang peristiwa, tren, dan dinamika terbaru.
FacebookLike
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow
WhatsAppFollow
LinkedInFollow
MediumFollow
QuoraFollow
- Advertisement -
bmzimages.combmzimages.com

Dapatkan Info Terbaru

Masukkan email Anda untuk mendapatkan pemberitahuan artikel baru

Berita Terkait

Ilustrasi. (©AI Generative)
Opini

Dongi-Dongi: Ketika Tambang, Narasi “Enclave”, dan Keberanian Negara Diuji

beritapalu
Ilustrasi (©AI Generative)
Opini

Melawan ‘Zero-Click’ dengan Jurnalisme Layanan

beritapalu
Ilustrasi (AI Generative)
Opini

Menu Bergizi? Menakar Martabat Rakyat Lewat Kantong Plastik

beritapalu
Ilustrasi (Generative AI)
Opini

Negara Menagih “Utang” di Tanah Sulteng: Tamparan bagi Korporasi, Ujian bagi Nyali Pemerintah

beritapalu
beritapalu.ID
Facebook Twitter Youtube Instagram Linkedin

About US

beritapalu.ID adalah situs berita online berbasis di Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia. UU No.40/1999 dan Kode Etik Jurnalistik adalah panduan kami. Kecepatan memang penting, tapi akurasi pemberitaan jauh lebih penting. Kami berpihak kepada kebenaran dan kemaslahatan orang banyak dan idak semua berita yang disajikan mewakili pikiran kami. 

Managerial
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontak
  • Karir
Kebijakan
  • Disclaimer
  • Kode Perilaku
  • Privacy Policy
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks Berita

Kunjungi kami di

https://bmzimages.com

© 2025 by beritapalu.ID

PT Beritapalu Media Independen
All Rights Reserved.

Copyright © 2026 beritapalu.ID | Published by PT Beritapalu Media Independen | All Rights Reserved
Halaman
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?