beritapalu.id
Friday, 23 Jan 2026
🌐 Network
pojokPALU pojokPALU pojokSIGI pojokSIGI pojokPOSO pojokPOSO pojokDONGGALA pojokDONGGALA pojokSULTENG pojokSULTENG bisnisSULTENG bisnisSULTENG bmzIMAGES bmzIMAGES rindang.ID rindang.ID
Subscribe
beritapalu.ID
  • HOME
  • HEADLINE
  • PALU
  • SULTENG
    • Sigi
    • Poso
    • Buol
    • Tolitoli
    • Banggai
    • Morowali
    • Donggala
    • Tojo Unauna
    • Banggai Laut
    • Morowali Utara
    • Parigi Moutong
    • Banggai Kepualuan
  • BISNIS
  • POLITIK
  • LINGKUNGAN
  • OLAHRAGA
  • INSPIRASI
  • 🌐
  • Hukum-Kriminal
  • Seni-Budaya
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Religi
  • Style
  • Region
  • Militer
  • Opini
  • Travel
  • Visual
  • Komunitas
📂 Lainnya ▼
Indeks Feature Advertorial Liputan Khusus
beritapalu.IDberitapalu.ID
Search
  • HOME
  • HEADLINE
  • PALU
  • SULTENG
    • Sigi
    • Poso
    • Buol
    • Tolitoli
    • Banggai
    • Morowali
    • Donggala
    • Tojo Unauna
    • Banggai Laut
    • Morowali Utara
    • Parigi Moutong
    • Banggai Kepualuan
  • BISNIS
  • POLITIK
  • LINGKUNGAN
  • OLAHRAGA
  • INSPIRASI
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
FotoLingkungan

Perubahan Iklim yang Terus Menggerus Petani Padi Sawah

Published: 31 December, 2021
Share
Tanaman padi sudah tumbuh, bukan berarti masalah bagi petani sudah selesai. (foto: Basri Marzuki)
SHARE

PHOTO STORY:

 

Setelah molor dari jadawal tanam seharusnya, akhirnya petani ini membajak sawahnya untuk ditanami padi. (foto: Basri Marzuki)

SALMAN (43 tahun) meneriaki dua ekor sapinya yang menarik bajak agar terus bergerak menyusuri sawah yang sudah terendam dengan air sejak dua hari lalu. Ia berharap, dalam seminggu ke depan, sawah yang luasnya tidak sampai setengah hektar itu sudah dapat ditanami padi.

Setelah sawah dibajak dan cukup “matang” untuk ditanami, maka saatnya membuat penanda tanam bibit. (foto: Basri Marzuki)

Penanggalan saat Salman membajak sawahnya itu tepat pada 1 November 2021, mundur hampir dua bulan dari waktu seharusnya mempersiapkan penanaman padi seperti lazimnya disuarakan para penyuluh pertanian di wilayahnya.

“Seharusnya September lalu sudah ditanam, tapi belum ada air, jadi mundur. Tidak mungkin kami menanam padi jika tidak ada air,” aku Salman.

Di tempat lainnya di Desa Porame, petani mempercepat waktu tanamnya yang sudah telat tanpa pembibitan lagi. Mereka langsung menaburnya di permukaan sawah. (foto: Basri Marzuki)

Salman yang berusaha tani padi sawah di wilayah administratif Desa Porame, Kecamatan Kinovaro, Kabupaten Sigi itu hanyalah salah satu dari sekian banyak petani yang harus melakukan penyesuaian pola tanam akibat ketidakmenentuan cuaca.

Risiko menanam tidak serentak adalah berhadapan dengan hama. Karenanya pemupukan meski mebebani ongkos usaha tani, namun sudah menjadi bagian yang mutlak dilakukan setiap petani. (foto: Basri Marzuki)

Pola tanam serentak kedua bagi padi sawah yang seharusnya dilakukan antara bulan September dan Oktober setiap tahunnya, terus bergeser mundur. Sebelumnya bergeser ke November, namun belakangan ini mundur lagi hingga ke Desember bahkan melompat ke Januari.

BACA JUGA:  Inisiatif Perempuan Desa Lambara Melawan Trafficking
Pemupukan saja tidak cukup, pengaturan air pada tanaman padi mesti seimbang. Persoalan jika saluran irigasi juga ikut rusak. Kementerian Pertanian menyebut, setidaknya 70 persen irigasi di Indonesia mengalami kerusakan. Beban petani kian berat. (foto: Basri Marzuki)

Salman dan juga petani lainnya tak kuasa bertahan, ia harus bertaruh dengan risiko gagal panen atau serangan hama akibat ketidakpatuhannya pada anjuran tanam serentak.

“Mau apalagi, padi butuh air, nah kalau tidak ada air, bagaimana mungkin padi bisa tumbuh,” lanjutnya.

Tanaman padi sudah tumbuh, bukan berarti masalah bagi petani sudah selesai. (foto: Basri Marzuki)

Apa boleh buat, Salman dan juga petani lainnya harus menerima hasil usaha padi sawahnya yang terus menurun. Dua tahun lalu ia masih bisa menikmati hasil sawahnya hingga rata-rata 2 ton untuk setengah hektare. Namun panen terakhir pada Juli 2021 hanya bisa menyukuri sebanyak 1,5 ton.

Masalah petani sawah tidak hanya pada pola tanam serentak, namun juga kerawanan cuaca sebagai dampak dari perubahan iklim. Angin kencang kerap kali membuat tanaman padi harus dipanen lebih awal. (foto: Basri Marzuki)

“Betul, banyak hama karena tidak menanam serentak. Tapi kalau tidak menanam, mau makan apa kami?” sebutnya.

BACA JUGA:  Perdana, PT Vale Uji Coba Mobil Listrik di Area Operasional
Panen lebih awal tentu akan hasilnya jauh lebih sedikit dibanding dengan usia padi seharusnya di panen. (foto: Basri Marzuki)

Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah mencatat, terjadi trend produksi pada sawah, tidak hanya di wilayah petani Salman Bertani, namun secara keseluruhan di Kabupaten Sigi. 2014 lalu, luasan panen padi sawah dan ladang masih mencakup 32.946 hektare, namun di 2020 tersisa 18.247 hektare.

Meski banyak menemuai kendala dan penurunan hasil produksi, petani tetap bergembira ketika waktunya menuai hasil tanam. (foto: Basri Marzuki)

Penurunan signifikan luasan panen padi itu juga menggerus hasil produksi. Jika di 2014 masih bisa menghasilkan 145.936 ton gabah kering giling, di 2020 hanya mampu berproduksi hingga 82.683 ton gabah kering giling.

Angin meniup bulir padi yang tak berisi, terbang bersama hasil yang diluar ekspektasi para petani. (foto: Basri Marzuki)

Dinas Pertanian setempat menyebut, penurunan luas panen dan juga hasil produksi itu disebabkan banyak factor, terutama bencana yang mendera dan juga perubahan fungsi kawasan dari sawah menjadi kawasan non pertanian.

Untuk ketahanan pangan, jangan tergantung pada padi yang terus merosot hasilnya. Diversifikassi ke tanaman pangan lain seperti ubi dan sejenisnya. (foto: Basri Marzuki)

Trio bencana (gempa, likuifaksi, dan tsunami) pada September 2018 disebut factor yang paling berdampak. Luas lahan banyak yang rusak akibat bencana tersebut, terutama irigasi Gumbasa yang menjadi sumber air bagi usaha pertanian di delapan kecamatan yang ada di Kabupaten Sigi.

BACA JUGA:  Banjir Bandang Kembali Terjang Desa Rogo Kabupaten Sigi
Sebagian petani bahkan mengusahak tanaman jagung di sela tidak menanam padi karena kekurangan air. (foto: Basri Marzuki)

Bahkan hingga lebih dari tiga tahun bencana itu, irigasi yang menjadi satu-satunya tumpuan bagi mayoritas petani di wilayah itu tak kunjung selesai seperti sebelum terjadinya bencana.

Produk diversifikasi yang cukup menjanjikan, harga jualnya kian naik dalam semester akhir 2021 ini. (foto: Basri Marzuki)

Cuaca ekstrim yang kerap melanda wilayah Sigi juga disebut sebagai factor penyebab. Banjir bandang dan tanah longsor yang bahkan menjadi “langganan” di wilayah bagian Selatan kabupaten itu sudah menjadi berita penanda bagi kabupaten yang 70 persen wilayahnya adalah cagar biosfer.

Perlahan namun pasti, gerusan perubahan iklim terus terjadi. Pemerintah setempat menganjurkan dilakukannya diversifikasi usaha tani. Tidak semata mengandalkan padi sawah atau ladang, namun juga tanaman hortikultura yang tidak lebih rentan dengan perubahan atau pergeseran pola cuaca.

Naskha dan foto: Basri Marzuki

Editor: beritapalu

TAGGED:cerita fotodiversifikasiladangpadipertanianporamesawahsigistory
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp LinkedIn Email Copy Link
Previous Article ojk sulteng Indikator IJK Tumbuh, OJK Sebut Sinyal Ekonomi Sulteng Mulai Pulih
Next Article Kapolda Tegaskan Sisa DPO Poso akan Terus Diburu

Berita Terbaru

Tim SAR gabungan mengevakuasi dua nelayan yan hanyut setelah rompong mereka pusut di Teluk Tomini, Parimo, Kamis (22/1/2026). (©Basarnas Palu)
Parigi Moutong

Dua Nelayan yang Hanyut di Teluk Tomini Ditemukan Selamat

22 January, 2026
Evauasi korban pesawat ATR 42-500 di pegunungan Bulu Saraung, Maros, kamis (22/1/2026). (©Basarnas Makassar)
Headline

Tim SAR Temukan Enam Korban Pesawat ATR 42-500 di Puncak Bulusaraung

22 January, 2026
Evauasi pack body part di pegunungan Bulu Saraung, Maros, kamis (22/1/2026). (©Basarnas Makassar)
Headline

Tim SAR Temukan Sembilan Pack Body Part di Lokasi Kecelakaan Pesawat

22 January, 2026
Foto bersama usai coffee morning di lapangan Vatulemo Palu, Kamis (22/1/2026). (©Humas Polresta Palu)
Palu

Coffee Morning, Kapolresta Palu Perkuat Sinergi Percepatan Pembangunan

22 January, 2026
Rapat virtual bersama Direktorat Jenderal Pemasyarakatan tentang penyelenggaraan pendidikan kesetaraan bagi narapidana dan anak binaan, Kamis (22/1/2026). (©Humas Ditjenpas Sulteng)
Palu

Kanwil Ditjenpas Sulteng Dorong Pembentukan PKBM di Lapas dan Rutan

22 January, 2026

Berita Populer

Foto

10 Pemuda Cetuskan Kawasan Wisata Alam Buntiede di Desa Padende

25 October, 2021

Pelaku Pembunuhan di Taman Ria Akhirnya Ditangkap Polisi

28 July, 2021
Komunitas

Tak Ada Perempuan, Sikola Mombine “Gugat” SK Penetapan Anggota KPID Sulteng

10 January, 2022
Morowali Utara

Perahu Terbalik Dibawa Arus, Seorang Warga masih Dicari

14 December, 2021
Parigi Moutong

Banjir di Sidoan Barat Seret Seorang Warga

3 January, 2022

Logo BeritaPalu.id Akurat dan Terpecaya

Komitmen kami terhadap akurasi, netralitas, keberimbangan, dan penyampaian berita terkini telah membangun kepercayaan dari banyak audiens. Terdepan dengan pembaruan terkini tentang peristiwa, tren, dan dinamika terbaru.
FacebookLike
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow
WhatsAppFollow
LinkedInFollow
MediumFollow
QuoraFollow
- Advertisement -
bmzimages.combmzimages.com

Dapatkan Info Terbaru

Masukkan email Anda untuk mendapatkan pemberitahuan artikel baru

Berita Terkait

Warga memancing di dekat tumpukan sampah di pesisir Teluk Palu, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (20/1/2026). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)
Foto

Jorok, Muara Sungai Palu Ditumpuki Sampah

beritapalu
Ilustrasi tanaman mangrove. (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)
Lingkungan

Tambang Pasir di Touna Diduga Rusak Ekosistem Mangrove

beritapalu
Foto udara pemukiman penduduk yang terendam banjir di Lhoksukon, Aceh Utara, Aceh, Selasa (26/12/2023). Berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Aceh Utara sebanyak 1.504 jiwa atau 5.583 kepala keluarga mengungsi dan 11.852 jiwa atau 40.435 kepala keluarga terdampak banjir tersebut. ANTARA FOTO/Mirza Baihaqie/Lmo/foc.
Komunitas

KIARA: Banjir Bukan Sekadar Hidrometeorologi, Tapi Ekologis Akibat Buruk Tata Kelola

beritapalu
Penanaman mangrove di Pantai Mamboro. (©MAL)
Lingkungan

Sutan Raja Hotel Tanam 500 Bibit Mangrove di Pesisir Pantai Mamboro

beritapalu
beritapalu.ID
Facebook Twitter Youtube Instagram Linkedin

About US

beritapalu.ID adalah situs berita online berbasis di Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia. UU No.40/1999 dan Kode Etik Jurnalistik adalah panduan kami. Kecepatan memang penting, tapi akurasi pemberitaan jauh lebih penting. Kami berpihak kepada kebenaran dan kemaslahatan orang banyak dan idak semua berita yang disajikan mewakili pikiran kami. 

Managerial
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontak
  • Karir
Kebijakan
  • Disclaimer
  • Kode Perilaku
  • Privacy Policy
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks Berita

Kunjungi kami di

https://bmzimages.com

© 2025 by beritapalu.ID

PT Beritapalu Media Independen
All Rights Reserved.

Copyright © 2026 beritapalu.ID | Published by PT Beritapalu Media Independen | All Rights Reserved
Halaman
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?