PALU, beritapalu.ID | Di Palu, kota yang hidup dengan debu, matahari, dan lapisan ingatan yang tak pernah benar-benar padam, seorang perupa bernama Wiyoso Yoganingrat—akrab dipanggil Iwin, Tai, Yos, Yoso, Yoga, atau puluhan nama lain yang menempel padanya—memamerkan sesuatu yang lebih dari sekadar karya seni. Pameran tunggal bertajuk “Menghukum Waktu” menjadi ruang tempat ia merangkum perjalanan hidup, alter ego, dan kehilangan yang membentuknya hari ini.
Kurator Neni Muhidin, yang mengenalnya sejak remaja, menyebut Iwin sebagai sosok yang sejak dulu bukan tampak sebagai calon perupa, melainkan “seniman berkawan”—seseorang yang mudah berbaur, berpindah komunitas, dan menguasai bahasa tempat ia singgah. Ia pernah hidup di Bandung, Bali, Tolitoli, dan berbagai kota lain, memunguti logat dan kebiasaan lokal secepat ia menyerap cerita baru. “Saya bahkan dulu tidak menganggapnya perupa,” kata Neni. “Saya baru tahu dia seniman ketika kami bertemu lagi di Jogja.”
Seni yang dikerjakan Iwin pada awalnya bukan seni rupa yang lahir dari ruang kontemplatif, melainkan yang lahir dari kebutuhan hidup. Ia membuat sandal berpotongan karet warna-warni dengan ikon pop—sebuah warisan masa remaja yang dipengaruhi majalah HAI, WPAP, dan jejak Andy Warhol. Dari sana, perjalanan kreatifnya menemukan bentuk baru: Kuk, alter ego berkepala kotak berbentuk anjing kecil, karakter satir yang ia gunakan untuk menafsirkan ulang wajah kota ini.
Kuk muncul di tembok-tembok Palu, menantang baliho politisi dan iklan produk. Ia hadir sebagai kritik sekaligus cermin, memantulkan dilema manusia modern—takut sekaligus berani, marah sekaligus pasrah. Di pameran ini, Kuk muncul berdampingan dengan fragmen kehidupan lain: arloji, benda rumah tangga, mainan masa kecil—objek-objek yang berubah menjadi artefak ingatan.
Peristiwa yang paling menandai perjalanan Iwin adalah kepergian putri sulungnya, Lona. Momen itu memadatkan waktu baginya, membuat setiap ingatan tiba-tiba terasa dekat dan mendesak. Tidak ada lagi yang benar-benar sederhana. Tidak ada yang benar-benar berlalu. “Semua yang lewat harus dihadirkan,” tulis kurator dalam catatannya. Hari pembukaan pameran ini, 17 November, dipilih bukan sembarangan. Itu hari ulang tahun Lona.
Di ruang pamer Ondewe Cafe itulah, Iwin mengumpulkan semua endapan perjalanan: garis risau yang lama berdiam di kepalanya, Kuk yang menggonggong di ruang publik, hingga benda-benda kecil yang dulu biasa saja, tetapi kini memuat bobot emosional yang besar. Di balik kaca toples, arloji yang berhenti seakan ikut menjadi saksi bagaimana waktu bisa terasa kejam, namun juga dirayakan lewat seni.

Dari panggung pembukaan, Kepala Dinas Pariwisata Kota Palu, Rahmad Mustafa, menyebut pameran ini sebagai peristiwa penting bagi kota. “Kita hampir tidak lagi melihat seniman memamerkan karya tunggalnya,” ujarnya. Ia berharap perjalanan seperti ini bisa membuka jalan bagi ruang seni yang lebih hidup, program kota yang lebih inklusif, dan dukungan yang lebih nyata bagi para perupa.
Malam itu, pameran “Menghukum Waktu” bukan sekadar pembukaan seni rupa. Ia berubah menjadi ruang pertemuan: antara yang telah pergi dan yang masih tinggal, antara yang pernah mampir dan yang ingin diingat. Bagi Iwin, menghukum waktu barangkali bukan tentang melawan kedewasaan atau kehilangan. Tapi tentang memastikan bahwa sesuatu—apa pun bentuknya—tetap tinggal, meski waktu terus berjalan.
Karena pada akhirnya, seni mungkin adalah satu-satunya cara manusia memberi perlawanan kecil pada waktu.
View this post on Instagram
pojokPALU
pojokSIGI
pojokPOSO
pojokDONGGALA
pojokSULTENG
bisnisSULTENG
bmzIMAGES
rindang.ID
Akurat dan Terpecaya