MOROWALI, beritapalu.ID | Ribuan pekerja yang tergabung dalam Serikat Pekerja Nasional (SPN) melakukan demonstrasi di kawasan Industri IMIP Morowali pada Jumat (11/4/2026). Aksi tersebut merupakan bentuk perlawanan terhadap berbagai persoalan mendasar yang dihadapi pekerja dalam lingkungan kerja.
Demonstrasi berlangsung dengan terorganisir dan tertib, dengan massa membawa 10 tuntutan utama kepada pihak perusahaan. Isu keselamatan kerja (K3) menjadi fokus paling menonjol dalam aksi ini, mengingat pekerja menilai sistem keselamatan saat ini tidak berjalan optimal dan cenderung diabaikan.
Ketua DPC SPN Iwan mengatakan bahwa aksi ini merupakan bentuk ketegasan pekerja dalam menuntut perbaikan kondisi kerja. “Kami tidak bisa lagi diam melihat sistem K3 yang buruk dan berbagai masalah lainnya. Pekerja memiliki hak untuk bekerja dengan aman dan terlindungi,” ujar Iwan.
10 Tuntutan Utama
Tuntutan yang disampaikan meliputi: pemberhentian pimpinan HR bidang hubungan industrial yang dianggap melanggar perjanjian bersama; pemberhentian pimpinan OHS IMIP; realisasi perjanjian bersama yang disepakati pada 16 Agustus 2025; investigasi transparan atas kasus kecelakaan kerja di PT CSP pada 29 Juli; evaluasi dan perbaikan total sistem manajemen K3; penghentian PHK dan peralihan sepihak karyawan PT LAS; tanggung jawab perusahaan atas hilangnya motor karyawan di parkiran; pemberian fasilitas telekomunikasi; penambahan armada bus karyawan; dan penyusunan Peraturan Perusahaan (PP) oleh PT CMI.
Pekerja menilai sistem keselamatan kerja saat ini menimbulkan risiko serius terhadap keselamatan mereka di lapangan.
Perusahaan Bersedia Dialog
Meskipun aksi masih berlangsung, tim HUMAS PT IMIP mendatangi massa aksi dan mengajak dialog langsung di kantor perusahaan. Pada pertemuan tersebut, pihak perusahaan menyatakan kesediaan menindaklanjuti beberapa poin prioritas, terutama terkait perbaikan sistem K3 dan peningkatan perlindungan pekerja.
Meskipun belum seluruh tuntutan terpenuhi, aksi ini berhasil membuka ruang komunikasi yang selama ini tertutup. Tekanan kolektif dari massa aksi menjadi faktor penting dalam mendorong respons dari pihak perusahaan.
Kehadiran ribuan buruh dari berbagai lini pekerjaan dalam satu barisan menunjukkan solidaritas yang kuat. Demonstrasi berlangsung tertib dan terkendali, dengan massa menunjukkan disiplin tinggi dan mengikuti arahan koordinator lapangan.
Solidaritas antarburuh menjadi kunci utama dalam menjaga aksi tetap kondusif. Tidak ada provokasi yang berkembang menjadi chaos, membuktikan bahwa perjuangan dapat dilakukan secara terorganisir, damai, dan bermartabat.
Aksi ini menunjukkan bahwa isu keselamatan kerja yang masih bermasalah harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar formalitas. Ke depan, konsistensi dan solidaritas menjadi kunci bagi pekerja untuk memastikan tuntutan mereka tidak hanya didengar, tetapi juga diwujudkan.










