FeatureFotoPalu

Perahu Lapuk, Semangat Tak Lapuk

×

Perahu Lapuk, Semangat Tak Lapuk

Share this article
Eri menambal perahunya yang sudah lapuk dimakan usia, Selasa (3/2/2026). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)
Eri menambal perahunya yang sudah lapuk dimakan usia, Selasa (3/2/2026). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)

PALU, beritapalu.ID | Sore itu, angin laut bertiup pelan di Pantai Talise, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu. Eri, pria berusia 50 tahun, duduk berjongkok di tepi pantai dengan mesin bor tangan di sisinya. Di hadapannya, sebuah perahu kayu yang sudah lapuk tergeletak miring. Dengan telaten, ia menambal bagian yang bocor menggunakan lem kayu, Selasa (3/2/2026).

Perahu itu sebenarnya sudah tidak layak pakai. Kayunya rapuh, dimakan usia dan terjangan ombak. Namun, bagi Eri, perahu lapuk itu adalah segalanya. “Kalau tidak melaut, ya tidak makan,” ujarnya singkat, sambil terus mengencangkan bor di tangan.

Eri memiliki dua perahu. Namun keduanya dalam kondisi memprihatinkan. Yang satu sedang ia tambal, yang satunya lagi sudah pecah dan tak terselamatkan lagi. Meski begitu, ia tidak menyerah. Dengan peralatan seadanya—mesin bor tangan dan lem kayu—ia terus berjuang memperpanjang umur perahu yang tersisa.

Memancing adalah satu-satunya mata pencaharian Eri. Lebih dari 18 tahun ia telah berdiam di kawasan Pantai Talise, setelah merantau dari Padang, Sumatera Barat. Tanah rantau ini telah menjadi rumahnya, tempat ia bertarung setiap hari melawan ombak dan ketidakpastian hasil tangkapan.

Namun, hidup di pesisir Palu tidak pernah mudah bagi Eri. Ia adalah salah satu dari ribuan orang yang selamat dari gelombang tsunami dahsyat pada 2018 silam. Bencana itu tidak hanya merenggut nyawa ribuan orang, tetapi juga menghancurkan harta benda para nelayan, termasuk perahu-perahu mereka.

“Pernah ada bantuan perahu saat tsunami lalu, namun perahunya sudah rusak karena kayunya kayu lembek, tidak sampai setahun sudah tidak bisa dipakai lagi,” kenang Eri dengan nada datar.

Sejak itu, ia kembali berjuang sendiri. Tidak ada keluhan yang keluar dari mulutnya. Tidak ada tuntutan. Hanya harapan sederhana—jika suatu hari ada bantuan perahu yang layak, tentu akan membuatnya lebih bersemangat lagi untuk bertahan.

Sore itu, saat matahari mulai condong ke barat, Eri masih sibuk dengan perahu lapuknya. Di kejauhan, ombak terus berdebur. Esok pagi, ia akan kembali melaut dengan perahu yang sama. Perahu yang bocor, namun masih sanggup membawanya mengarungi lautan. Sebab bagi Eri, menyerah bukan pilihan. Selama masih ada perahu—meski lapuk—selama itu pula ia akan terus melaut.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by beritapalu.ID (@beritapalu_id)

Editor: beritapalu
Penulis: beritapalu
Tanggal: 3 February, 2026
Ketua Tim PKK Diah Pustpita saat tiba di SMP Al-Azhar Palu, Rabu (6/5/2026). (©Prokopim Setda Kota Palu/Imron)
Komunitas

Ketua TP-PKK Kota Palu memberikan edukasi di SMP Al-Azhar yang baru saja dinobatkan sebagai Sekolah Siaga Kependudukan, menghubungkan kedewasaan usia perkawinan dengan pencegahan stunting pada generasi mendatang.

Pengunjung memperhatikan kain kulit kayu yang dipamerkan di Museum Sulteng, Selasa (5/5/2026). (© bmzIMAGES/.Basri Marzuki)
Feature

Selembar kain berwarna cokelat kemerahan tampak sederhana, menyimpan jejak panjang peradaban manusia di Sulawesi Tengah. Kain itu bukan ditenun dari benang, melainkan dipukul, direndam, dan diolah dari kulit kayu—sebuah teknik yang telah hidup sejak masa neolitikum dan masih bertahan hingga hari ini.