BUOL, beritapalu.ID | Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Dinas Perikanan Kabupaten Buol memastikan bahwa ikan yang terdampar dan memenuhi pesisir pantai di Buol seperti video yang beredar di media sosial tidak disebabkan oleh penggunaan bahan berbahaya seperti potasium, sianida, bom ikan, maupun fenomena alam tertentu.
Kepastian itu disampaikan setelah dilakukan penelusuran dan klarifikasi langsung di lapangan oleh instansi terkait, Minggu (18/1). Ikan yang ditemukan terdampar diketahui merupakan jenis ikan kerong-kerong atau ikan piok (Terapon jarbua).
Kepala DLH Kabupaten Buol, Syarif Badalu menjelaskan, berdasarkan hasil konfirmasi dan laporan lapangan, ikan-ikan tersebut bukan mati akibat penggunaan bahan kimia berbahaya, melainkan merupakan hasil tangkapan nelayan yang ditinggalkan karena keterbatasan kapasitas perahu.
“Dari hasil penelusuran kami, ikan itu bukan mati karena potas atau bahan berbahaya lainnya. Ikan tersebut merupakan hasil tangkapan nelayan yang didampar dan akhirnya terdampar di pesisir pantai,” jelas Syarif.
Ia menambahkan, seorang nelayan bernama Iwan, warga Kelurahan Buol, Kecamatan Biau, telah dikonfirmasi sebagai pihak yang melakukan penangkapan ikan tersebut. Dalam keterangannya, nelayan tersebut menyebutkan hasil tangkapan cukup banyak dan beragam, seperti ikan bubara, kuli-kuli, serta ikan piok. Namun, karena keterbatasan daya tampung perahu, sebagian ikan terpaksa ditinggalkan.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Buol, Tonang Mallongi, juga memberikan klarifikasi untuk meluruskan berbagai spekulasi yang berkembang di media sosial.
“Kami mengklarifikasi kejadian ikan terdampar di pantai Kabupaten Buol, tepatnya di Kelurahan Kali, belakang SPBU atau Pertamina. Kejadian ini sempat menimbulkan kontroversi dan kekhawatiran di masyarakat,” ujarnya.
Menurut Tonang, ikan yang terdampar didominasi jenis ikan piok yang secara umum kurang diminati masyarakat untuk dikonsumsi. Akibatnya, ikan tersebut sering tidak diambil nelayan dan dibiarkan hingga terbawa arus ke pesisir pantai.
Ia menegaskan kemungkinan penggunaan potasium atau sianida sangat kecil, karena zat tersebut biasanya berdampak pada ikan karang atau ikan dasar, bukan ikan lapisan tengah seperti ikan piok.
“Ikan ini tertangkap secara tidak sengaja menggunakan alat tangkap pukat tarik pantai atau soma dampar. Nelayan awalnya mengira gerombolan ikan tersebut bernilai ekonomis tinggi, namun setelah jaring ditarik, hasilnya justru didominasi ikan piok,” jelasnya.
Terkait beredarnya foto dan video di media sosial, Dinas Perikanan Kabupaten Buol mengimbau para nelayan agar lebih bijak dalam menangani hasil tangkapan yang tidak dimanfaatkan.
“Kami mengingatkan agar ke depan nelayan tidak membiarkan ikan hasil tangkapan mati dan terdampar di pantai, karena dapat menimbulkan kesalahpahaman dan keresahan di masyarakat,” tegas Tonang.
Pemerintah Kabupaten Buol menegaskan fenomena ikan terdampar seperti ini bukan kali pertama terjadi, namun jumlah ikan yang relatif lebih banyak pada kejadian kali ini memicu perhatian publik dan spekulasi beragam.
Pemkab Buol mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi serta mengajak semua pihak menjaga kelestarian lingkungan laut. Pemerintah daerah memastikan akan terus melakukan pemantauan dan koordinasi lintas sektor guna memastikan aktivitas penangkapan ikan berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
pojokPALU
pojokSIGI
pojokPOSO
pojokDONGGALA
pojokSULTENG
bisnisSULTENG
bmzIMAGES
rindang.ID
Akurat dan Terpecaya