PALU, beritapalu.ID | Ruangan berukuran 2,5 x 5 meter yang didominasi cat hitam dan diterangi satu bohlam kuning temaram menjadi panggung ekspresi kegelisahan seniman Kukuh Ramadhan terhadap kondisi lingkungan Sulawesi Tengah. Pameran tunggal bertajuk “Sisa” ini digelar di Rumah Tiara Coffee sejak 27 Desember 2025 dan ditutup pada Jumat (3/1/2026) dengan pemutaran Film Budaya Kaili.
Di sudut dalam ruangan, layar monitor berkedip-kedip menampilkan riak ombak merah Teluk Palu berlatar samar Gunung Gawalise yang tercabik tambang. Dinding sebelah kanan dipenuhi kolase foto berukuran mini yang menempel berdampingan, membentuk garis linear tentang Teluk Palu dan pegunungan yang perlahan kehilangan warna hijau alamnya.
Karya dari Sisa-Sisa
Kukuh Ramadhan, kolektor foto dan desainer pameran menjelaskan konsep di balik karyanya. “Ini hari terakhir dari Sisa. Saya memang menampilkan tema ini karena semua berasal dari sisa-sisa. Karya lama yang punya irisan dengan lingkungan dan pernah ditampilkan untuk pameran World Bank Resilience,” ujarnya.
Menurutnya, karya-karya dalam pameran ini adalah bagian yang tidak selesai saat penolakan tanggul di Teluk Palu. Dari yang tersisa, ia melihat keterhubungan antara teluk dan pegunungan yang saat ini semakin mengkhawatirkan.

Mengusir Rayap: Metafora Masyarakat Tersingkir
Salah satu karya yang menarik perhatian adalah sepenggal batang pohon sisa tebangan berjudul “Mengusir Rayap” yang terletak di tengah ruang pamer. Kukuh mengibaratkan batang pohon berpori yang dimakan rayap sebagai masyarakat yang terusir dari tanahnya karena mengalah dengan program investasi.
“Rayap itu kan hidup aman, tenang di dalam batang pohon yang terbuang itu. Tidak mengusik, tidak mengambil, dan tidak merusak milik orang. Tiba-tiba ada yang lihat, tertarik, dan menguasainya dengan cara mengusir. Saya pikir ini kok sama dengan kita yang diusir karena tanah kita layak untuk pertambangan,” ungkap Kukuh.
Heterogen dan Penuh Makna
Pameran “Sisa” berkonsep heterogen-installation art ini menampilkan karya dari berbagai jenis seperti foto, patung, dan benda sisa. Karya-karya tersebut bercerita tentang kebijakan yang tidak berpihak pada lingkungan, kemarahan masyarakat yang tidak mendapatkan solusi perbaikan sistem, termasuk regulasi yang tidak memberikan solusi.
Melalui pameran ini, Kukuh mengekspresikan ketidakpuasannya terhadap kondisi lingkungan yang terus memburuk, sekaligus mengajak pengunjung untuk merefleksikan hubungan antara manusia, alam, dan kebijakan pembangunan yang kerap mengorbankan lingkungan dan masyarakat lokal.
pojokPALU
pojokSIGI
pojokPOSO
pojokDONGGALA
pojokSULTENG
bisnisSULTENG
bmzIMAGES
rindang.ID
Akurat dan Terpecaya