PALU, beritapalu.ID | Asosiasi Perkebunan Durian Indonesia (Apdurin) menargetkan nilai ekspor durian dari Sulawesi Tengah mencapai Rp1 triliun pada kuartal pertama 2026. Target ambisius ini sejalan dengan dibukanya akses ekspor langsung durian beku ke China yang telah memenuhi berbagai persyaratan ketat dari General Administration of Customs of China (GACC).
Sekretaris Jenderal Apdurin Aditya Pradewo menjelaskan bahwa terbukanya pasar China menjadi titik balik bagi industri durian nasional. “Durian segar Indonesia juga telah memperoleh persetujuan protokol dan ditargetkan dapat ditandatangani tahun 2026. Ini merupakan lompatan besar bagi industri durian nasional,” kata Aditya.
3.056 Hektare Kebun Terdaftar
Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulteng telah mendaftarkan 3.056 hektare kebun durian yang melibatkan 1.379 petani. Tiga kabupaten telah memperoleh registrasi untuk persiapan ekspor durian ke China, yakni Parigi Moutong, Poso, dan Sigi. Produksi durian Sulteng pada 2023 mencapai 743.256 kuintal dari lebih dari 1,2 juta pohon produktif.
Durian Sulteng telah memenuhi tiga standar utama ekspor, yaitu Good Agriculture Practices (GAP), Good Handling Practices (GHP) sesuai Permentan Nomor 48/2009, serta registrasi kebun dan lahan. Varietas unggulan yang menjadi fokus ekspor meliputi Montong, Musang King, Duri Hitam, dan Bawor.
Packing House Siap Operasi
Badan Karantina Indonesia (Barantin) mencatat delapan rumah pengemasan durian beku telah memenuhi syarat sebagai Instalasi Karantina Tumbuhan (IKT), terdiri atas tujuh di Sulteng dan satu di Kabupaten Bogor. Kepala Barantin Sahat M. Panggabean telah meninjau langsung kesiapan packing house dan kebun durian di Parigi Moutong.
Durian akan diekspor dalam bentuk beku atau kemasan, dengan dua pilihan: daging durian beserta biji dan bentuk pasta. Ekspor langsung dari Pelabuhan Pantolan Palu diperkirakan membutuhkan waktu sekitar sembilan hari, dengan tingkat kematangan buah saat panen ditargetkan 80-90 persen.
Indonesia memiliki keunggulan strategis dari sisi waktu panen. Periode Januari hingga Maret yang bertepatan dengan perayaan Imlek menjadi momentum penting karena negara-negara pesaing seperti Thailand dan Vietnam tidak memiliki pasokan buah pada periode tersebut. Program ini diharapkan meningkatkan perekonomian petani dan memperluas pasar produk pertanian Indonesia.
View this post on Instagram
pojokPALU
pojokSIGI
pojokPOSO
pojokDONGGALA
pojokSULTENG
bisnisSULTENG
bmzIMAGES
rindang.ID
Akurat dan Terpecaya