SIGI, beritapalu.ID | Matahari belum sepenuhnya naik ketika lapak-lapak di Pasar Tradisional Dolo sudah ramai. Para pedagang menggelar dagangan mereka di atas terpal aneka warna, menata sayuran segar, rempah-rempah, dan buah-buahan dengan cara yang sudah dilakukan bertahun-tahun lamanya — sederhana, tanpa banyak dekorasi, tapi semuanya tampak dan tercium segar.
Selasa (24/3/2026) pagi itu, suasananya sedikit berbeda dari pekan-pekan sebelumnya. Lebaran Idul Fitri 1447 H baru saja berlalu sehari, dan orang-orang datang ke pasar bukan hanya untuk belanja.
Pasar Dolo adalah pasar mingguan yang hanya buka dua kali sepekan — setiap Selasa dan Jumat. Lokasinya berada di Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, sekitar 20 kilometer selatan Kota Palu. Setiap hari pasaran, ratusan pedagang dari berbagai penjuru berdatangan — dari desa-desa di lereng pegunungan Kulawi, dari kampung-kampung di bantaran Sungai Lariang, hingga dari Kota Palu yang sengaja menyempatkan diri datang pagi-pagi.
Yang membuat pasar ini tetap hidup di tengah menjamurnya minimarket dan pasar modern adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli di tempat lain: nuansa dan suasananya. Lapak sayur-mayur dan bumbu-bumbuan masih sangat tradisional — ibu-ibu pedagang duduk di atas tikar atau jongkok di balik deretan dagangan mereka, menimbang cabai dengan tangan, menakar bawang dengan takaran kaleng bekas. Aroma tanah basah bercampur wangi daun pandan dan kunyit segar menjadi parfum alami pasar ini setiap pagi.
Sigi memang dikenal luas dengan ikan air tawarnya, dan di sinilah daya tarik lain pasar ini tersimpan. Ikan mas dan ikan nila, mujair — menjadi incaran pembeli yang datang dari jauh. Tidak jarang warga Kota Palu sengaja meluncur ke Dolo hanya demi mendapatkan ikan air tawar segar yang rasanya berbeda dari yang dijual di pasar kota. Bagi mereka yang tahu, Pasar Dolo adalah alamat yang tepat.
Namun Selasa pagi itu terasa lebih dari sekadar hari pasar biasa. Di sela-sela transaksi jual beli, terdengar obrolan yang nadanya berbeda — lebih hangat, lebih panjang dari biasanya. Dua perempuan paruh baya berpelukan di antara lapak bawang dan cabai. Seorang lelaki tua memanggil nama temannya dari seberang lorong dan keduanya tertawa. Di pasar itulah banyak orang akhirnya bertemu — mereka yang tidak sempat saling berkunjung di hari raya, yang rumahnya berjauhan, yang kesibukannya berbeda-beda. Pasar menjadi titik temu yang tidak direncanakan tapi selalu terjadi.
Momen Lebaran memang memberi lapisan makna tambahan pada pasar tradisional. Di tempat seperti ini, silaturahmi tidak selalu perlu direncanakan dengan undangan dan jamuan formal. Kadang cukup dengan saling menyapa di lorong sempit antara lapak sayur dan lapak pisang, bertukar kabar singkat, lalu melanjutkan belanja masing-masing. Tapi dari pertemuan singkat itu, ada sesuatu yang tersambung kembali — kekerabatan, persaudaraan, rasa saling kenal yang di kota besar sudah semakin langka.
Selain pangan segar, Pasar Dolo juga menyimpan kejutan bagi yang pertama kali datang. Di sisi lain pasar, lapak-lapak pakaian menjajakan berbagai pilihan — mulai dari batik, baju koko, hingga pakaian anak dengan merek yang tidak kalah dari yang dijual di mal kota. Ini pasar tradisional, tapi bukan berarti barang yang dijual seadanya. Pembeli yang jeli bisa menemukan kualitas premium dengan harga yang jauh lebih masuk akal.
Pasar Tradisional Dolo adalah salah satu dari sedikit pasar yang selamat dari gempa dan likuefaksi 2018 yang menghancurkan sebagian besar wilayah Sigi. Kecamatan Dolo sendiri terdampak, namun tidak separah Petobo atau Balaroa. Pasar ini kemudian menjadi salah satu titik pemulihan ekonomi warga — tempat berputarnya uang dari tangan petani ke pedagang, dari pembeli ke penjual, dari desa ke kota dan sebaliknya. Dalam skala kecil, pasar ini adalah nadi perekonomian lokal yang terus berdetak dua kali seminggu, tanpa banyak perhatian dari luar, tapi tidak pernah benar-benar berhenti.
Pagi itu, ketika matahari mulai terik dan pengunjung mulai berdatangan lebih ramai, suasana Pasar Dolo terasa seperti gabungan dari dua momen sekaligus — hari pasar dan hari lebaran yang belum benar-benar usai. Dan mungkin memang begitulah seharusnya. Lebaran bukan hanya soal shalat Id dan ketupat — ia juga tentang pertemuan-pertemuan kecil yang terjadi di tempat-tempat sederhana seperti ini.
View this post on Instagram
pojokPALU
pojokSIGI
pojokPOSO
pojokDONGGALA
pojokSULTENG
bisnisSULTENG
bmzIMAGES
rindang.ID
Akurat dan Terpecaya