PALU, beritapalu.ID | Jarum jam belum lagi menyentuh angka tujuh ketika ribuan pasang kaki sudah menyesaki setiap jengkal halaman Masjid Raya Baitul Khairaat, Sabtu (21/3/2026). Dari udara, pemandangan itu tampak seperti lautan manusia yang mengepung kubah putih raksasa — barisan shaf yang memanjang meluber dari dalam masjid, memenuhi teras, dan menjalar hingga ke halaman terluar. Gema takbir yang bertalu-talu seolah menghapus semua jarak, melebur puluhan ribu jiwa menjadi satu dalam satu kalimat yang sama: Allahu Akbar.
Ini bukan sekadar shalat Idul Fitri biasa. Ini adalah momen yang telah delapan tahun dinantikan.
Sejak gempa dan tsunami dahsyat menghantam Palu pada 28 September 2018, masjid yang dulunya bernama Masjid Agung Darussalam itu berdiri dalam kondisi rusak berat — kubahnya retak, strukturnya terancam, dan mimbarnya sunyi.
Bertahun-tahun lamanya, umat Islam Palu merayakan lebaran tanpa masjid kebanggaan mereka. Kini, setelah rekonstruksi senilai Rp385 miliar yang berlangsung bertahun-tahun dan peresmian kembali pada Desember 2025, masjid itu berdiri lebih megah dengan nama baru: Masjid Raya Baitul Khairaat. Dan Sabtu (21/3/2025), untuk pertama kalinya sejak rekonstruksi, ia menjadi tuan rumah shalat Idul Fitri.
Masjid ini memang bukan sembarangan bangunan. Kubah raksasanya yang bermahkotakan kaligrafi bertinta hijau-kuning telah dinobatkan oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai kubah masjid terbesar di Indonesia. Dengan kapasitas hingga 15.000 jamaah, ia adalah salah satu masjid terbesar di Sulawesi. Arsitekturnya memadukan ornamen islami dengan sentuhan modern, sebuah perpaduan yang membuat siapapun yang memandangnya dari kejauhan akan langsung mengenalinya sebagai penanda Kota Palu.

Pagi itu, kapasitas 15.000 orang pun terasa kurang. Lantai satu dan lantai dua masjid sesak terisi jauh sebelum shalat dimulai. Mereka yang datang terlambat menggelar sajadah di teras, di tangga, bahkan di sepanjang jalan-jalan kecil di sekeliling masjid. Dari foto udara, tampak betapa lautan jamaah itu mengalir mengelilingi kubah putih kebanggaan warga Palu bak gelombang yang tak terbendung — sebuah gambaran kerinduan yang akhirnya terbayar lunas.
Khutbah Idul Fitri pagi itu disampaikan oleh Anwar Hafid, Gubernur Sulawesi Tengah. Memilih masjid yang baru bangkit dari puing-puing bencana sebagai panggung khutbah memberikan bobot tersendiri pada setiap kata yang ia ucapkan. Anwar Hafid mengajak jamaah menjadikan Idul Fitri sebagai titik awal untuk memperkuat nilai kebersamaan, keikhlasan, dan saling memaafkan. Ia menggambarkan Ramadan layaknya sebuah kendaraan spiritual yang kini telah berlalu pergi.
“Sekarang kendaraan bernama Ramadhan sudah meninggalkan Tanah Tadulako, meninggalkan kita semua dengan perasaan rindu yang mendalam,” kata Anwar Hafid di hadapan puluhan ribu pasang mata yang mendengarkan dalam khusyuk.
Ada ironi yang indah dalam momen ini. Masjid yang pernah lumpuh oleh bencana, kini justru menjadi tempat puluhan ribu orang merayakan kemenangan. Bangunan yang pernah tak berdaya di hadapan alam, kini berdiri kokoh menjadi saksi sujud syukur ribuan jiwa. Baitul Khairaat — yang berarti Rumah Kebaikan — seolah menuntaskan janji yang lama tertunda kepada warganya: bahwa Palu akan bangkit, dan kemenangan itu nyata.
Seusai shalat, arus jamaah perlahan berpencar ke segala arah — berpelukan, saling berjabat tangan, mengucap maaf. Di bawah kubah bear itu, Kota Palu merayakan dua kemenangan sekaligus: kemenangan spiritual di penghujung Ramadhan, dan kemenangan atas luka panjang yang perlahan-lahan telah tersembuhkan.
View this post on Instagram
pojokPALU
pojokSIGI
pojokPOSO
pojokDONGGALA
pojokSULTENG
bisnisSULTENG
bmzIMAGES
rindang.ID
Akurat dan Terpecaya