JAKARTA, beritapalu.ID | Para pemimpin bisnis dari seluruh Asia Tenggara berkumpul di Jakarta untuk meluncurkan ASEAN Responsible Business Collective, sebuah platform regional yang dirancang membantu perusahaan tetap berdaya saing di tengah perubahan standar global terkait rantai pasok, hak asasi manusia, dan praktik lingkungan yang semakin memengaruhi perdagangan internasional.
Platform yang didanai Pemerintah Jepang dan didukung United Nations Development Programme (UNDP) ini bertujuan mempertemukan perusahaan, asosiasi industri, dan perwakilan diplomatik dari seluruh kawasan ASEAN — ekonomi terbesar kelima di dunia dengan PDB gabungan melebihi 4 triliun Dolar AS.
Kepala Perwakilan UNDP di Indonesia, Sara Ferrer Olivella, menegaskan bahwa perubahan standar global bukan lagi sesuatu yang perlu diperdebatkan, melainkan kenyataan yang harus direspons. “Pertanyaan sebenarnya adalah bagaimana bisnis memiliki kapasitas untuk beradaptasi dengan cepat terhadap standar global yang berubah dan tetap berdaya saing untuk mengakses pasar seperti Uni Eropa dan Jepang,” ujarnya.
Berbeda dari forum kebijakan konvensional, platform ini dirancang untuk mengatasi tantangan operasional nyata, mulai dari ketelusuran rantai pasok hingga mekanisme pengaduan dan tata kelola perusahaan. Acara peluncuran dihadiri Global Compact Networks dari Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand, Kamar Dagang Vietnam, serta perwakilan kelompok industri Indonesia di sektor manufaktur, pertanian, layanan digital, pertambangan, keuangan, dan infrastruktur.
Sorotan lain dalam acara tersebut adalah pemaparan penelitian terbaru UNDP bertajuk “Human Rights vs. Competitiveness — A False Dilemma?” yang menganalisis 235 perusahaan global di sektor berisiko tinggi. Hasil studi menunjukkan bahwa praktik hak asasi manusia yang lebih kuat justru meningkatkan efisiensi perusahaan dalam mengubah aset menjadi keuntungan, sekaligus menantang asumsi lama bahwa bisnis bertanggung jawab melemahkan daya saing.
Wakil Kepala Misi Jepang untuk ASEAN, Kazuo Chujo, menyambut baik inisiatif ini. “Ketahanan dan keberlanjutan ekonomi di kawasan ASEAN, yang didukung oleh rantai pasok yang kuat dan terpercaya, menjadi semakin penting,” ujarnya.
Bagi Indonesia yang mencatatkan ekspor lebih dari 200 miliar Dolar AS dalam beberapa tahun terakhir, pemenuhan standar uji tuntas dan transparansi dari pasar utama seperti Uni Eropa dan Jepang dinilai semakin menentukan keberlangsungan akses pasar internasional.
pojokPALU
pojokSIGI
pojokPOSO
pojokDONGGALA
pojokSULTENG
bisnisSULTENG
bmzIMAGES
rindang.ID
Akurat dan Terpecaya