Realitasnya, media lokal di Sulawesi Tengah kini menghadapi jepitan ganda (double squeeze)—sebuah tekanan simultan antara hilangnya pendapatan iklan cetak dan penguasaan distribusi konten oleh platform global.

Oleh: Dr. Stepanus Bo’do*
Perkembangan teknologi media berlangsung sangat cepat—seperti gelombang yang tak pernah reda. Di awal 2026 ini, ketika kecerdasan buatan (AI) menjadi bagian tak terpisahkan, pertanyaan besarnya bukan lagi “kapan” teknologi ini datang, melainkan: Apakah AI akan menggantikan pekerjaan jurnalis lokal, atau justru menjadi alat pemberdaya untuk jurnalisme yang lebih relevan?
Saya sering menganalogikan perubahan teknologi ini seperti arus sungai yang deras. Kita punya dua pilihan: membiarkan diri pasif hingga akhirnya terseret arus dan tenggelam, atau belajar berenang dan memahami navigasi untuk mengarahkan ke mana arus itu membawa kita. Dalam konteks media, “navigasi” tersebut adalah keberanian untuk beradaptasi tanpa kehilangan identitas serta visi dan misi media sebagai pilar informasi masyarakat.
Jepitan Ganda Media Lokal
Realitasnya, media lokal di Sulawesi Tengah kini menghadapi jepitan ganda (double squeeze)—sebuah tekanan simultan antara hilangnya pendapatan iklan cetak dan penguasaan distribusi konten oleh platform global.
Di satu sisi, kita dibayangi fenomena “news desert” atau gurun berita, di mana daerah terancam kehilangan sumber informasi kredibel akibat media lokal yang bertumbangan. Di sisi lain, muncul tantangan zero-click searches yang diperparah oleh ringkasan AI seperti Google AI Overviews.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi), Nezar Patria, secara tegas menyoroti hal ini sebagai disrupsi baru yang melanjuti disrupsi digital sebelumnya. Fenomena zero-click membuat publik cukup membaca ringkasan berita dari AI tanpa mengunjungi sumber aslinya. Dampaknya sangat nyata; nilai jurnalisme “diekstraksi” tanpa pengembalian yang adil, sehingga trafik situs media bisa merosot drastis hingga lebih dari 40%.
Jurnalisme Layanan sebagai Solusi
Namun, saya melihat peluang besar di balik tantangan ini melalui Jurnalisme Layanan (Service Journalism). Alih-alih sekadar melaporkan “apa yang terjadi,” media lokal harus menjawab: “Apa yang bisa dilakukan pembaca dengan informasi itu?”
Model ini telah sukses diterapkan oleh organisasi media besar seperti The New York Times melalui kanal Wirecutter atau The Guardian dengan panduan gaya hidupnya, yang membuktikan bahwa pembaca bersedia membayar untuk informasi yang membantu mereka mengambil keputusan sehari-hari.
Mengapa kata kunci “layanan” menjadi jawaban? Tren konsumen berita saat ini menunjukkan adanya news avoidance (penghindaran berita) karena publik merasa lelah dengan berita negatif yang hanya memicu kecemasan tanpa memberikan solusi. Jurnalisme layanan hadir memecah kebuntuan ini dengan memberikan utilitas.
Dari Laporan ke Panduan
Semangat komunitas ini harus diperkuat dengan konten yang memiliki kegunaan tinggi. Jika biasanya kita melihat judul berita seperti “Banjir Merendam Jalan Trans Sulawesi” yang hanya mengabarkan musibah, jurnalisme layanan harus bergeser menjadi panduan praktis.
Judul-judul seperti “Kearifan Lokal Membangun Rumah Anti-Banjir di Palu” atau rekomendasi “UMKM Lokal Tahan Krisis Ekonomi” akan dinilai pembaca sebagai panduan yang sangat berguna bagi kehidupan mereka sehari-hari. Inilah jurnalisme yang “menyentuh tanah”—yang berfokus pada kebutuhan warga lokal agar mereka bisa berdaya di tengah ketidakpastian.
AI sebagai Digital Intern
Di sinilah AI berperan sebagai “digital intern.” Berdasarkan Peraturan Dewan Pers No. 1 Tahun 2025 tentang Pedoman Penggunaan AI dalam Karya Jurnalistik, teknologi ini adalah alat bantu, bukan pengganti. Kita bisa menerapkan prinsip “Human > Machine > Human”.
Artinya, AI digunakan untuk menganalisis data mentah, namun verifikasi manual dan sentuhan empati manusia tetap mutlak dilakukan sebelum diterbitkan. Label transparan seperti “Dibantu AI, Diverifikasi Manusia” menjadi kunci untuk menjaga kredibilitas di mata warga Sulteng.
Catatan Kritis Aspek Etika
Namun, sebagai pemerhati literasi digital, saya tetap memberikan catatan kritis pada aspek etika. AI generatif sering kali gagal memahami nuansa budaya lokal, seperti adat istiadat suku atau masyarakat lokal.
Oleh karena itu, pengambil kebijakan perlu mendorong dana jurnalisme publik untuk pelatihan literasi digital bagi jurnalis di daerah, agar mereka tidak menjadi korban “kotak hitam” algoritma.
Bagi para pemimpin berita (news leaders), integrasikan AI dengan strategi keterlibatan komunitas secara langsung. Gunakan AI untuk menganalisis data audiens guna meningkatkan efisiensi, namun tetaplah berakar pada komunitas melalui sesi mendengarkan aspirasi warga secara tatap muka.
Penutup
Kesimpulannya, keberlanjutan media lokal di era 2026 bukan tentang melawan AI, melainkan memanfaatkannya dengan bijak. Radar Palu dan media lokal lainnya bisa menjadi contoh nasional: media yang tangguh, berakar pada komunitas, dan didukung penggunaan teknologi yang etis.
Mari kita pastikan bahwa di tengah derasnya arus algoritma yang dingin, denyut nadi masyarakat Lembah Palu tetap terdengar nyaring dan autentik melalui jurnalisme yang melayani.
*) Penulis adalah Akademisi Universitas Tadulako/Peneliti Media. Fokus pada riset digitalisasi media, jurnalisme lingkungan, dan literasi digital.
pojokPALU
pojokSIGI
pojokPOSO
pojokDONGGALA
pojokSULTENG
bisnisSULTENG
bmzIMAGES
rindang.ID
Akurat dan Terpecaya