PALU, beritapalu.ID | Operasi terpusat dengan sandi kewilayahan Operasi Keselamatan Tinombala 2026 yang digelar Polda Sulawesi Tengah resmi berakhir setelah dilaksanakan selama 14 hari, terhitung sejak 2 hingga 15 Februari 2026, dengan fokus pada pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat (Harkamtibmas) di bidang lalu lintas.
Direktur Lalu Lintas Polda Sulawesi Tengah, Agung Tri Widiantoro, selaku Kaopsda Operasi Keselamatan Tinombala 2026, mengungkapkan bahwa selama pelaksanaan operasi tercatat 48 kejadian kecelakaan lalu lintas, meningkat 71 persen dibandingkan tahun 2025 yang berjumlah 28 kejadian.
“Faktor penyebab tertinggi kecelakaan masih didominasi oleh faktor manusia, khususnya mendahului, berbelok, atau berpindah jalur, dengan jumlah 17 kasus,” ungkapnya.
Untuk korban meninggal dunia, jumlahnya tetap 11 jiwa baik pada tahun 2025 maupun 2026. Namun, korban luka berat meningkat dari 13 jiwa pada 2025 menjadi 26 jiwa pada 2026 atau naik 100 persen. Korban luka ringan naik dari 31 jiwa pada 2025 menjadi 64 jiwa pada 2026 atau meningkat 106 persen.
Penindakan pelanggaran lalu lintas menunjukkan dinamika signifikan. Pelanggaran melalui ETLE pada 2026 tercatat 5.360, sementara pelanggaran non-ETLE mencapai 63 kasus. Jumlah teguran meningkat dari 29.690 pada 2025 menjadi 41.893 pada 2026 atau naik 41 persen.
Pelanggaran angkutan Over Dimension Over Loading (ODOL) melonjak dari 67 unit pada 2025 menjadi 483 unit pada 2026 atau naik 621 persen. Secara keseluruhan, pelanggaran lalu lintas selama Operasi Keselamatan Tinombala 2026 mencapai 48.372 kasus, meningkat 38 persen dibandingkan tahun 2025 yang mencatat 35.106 kasus.
Operasi Keselamatan Tinombala 2026 mengedepankan kegiatan edukatif, persuasif, dan humanis, yang didukung dengan penegakan hukum berbasis elektronik melalui ETLE statis dan mobile.
Agung Tri Widiantoro mengimbau kepada seluruh masyarakat, khususnya para pengguna jalan, agar senantiasa mematuhi peraturan lalu lintas, melengkapi kelengkapan kendaraan dan surat-surat, serta mengutamakan keselamatan sebagai kebutuhan bersama.
“Kami berharap kesadaran tertib berlalu lintas tidak hanya meningkat saat operasi berlangsung, tetapi menjadi budaya sehari-hari. Dengan disiplin dan kepatuhan bersama, kita dapat menekan angka kecelakaan lalu lintas dan mewujudkan Kamseltibcarlantas yang aman, nyaman, dan selamat bagi seluruh masyarakat Sulawesi Tengah,” pungkasnya.
pojokPALU
pojokSIGI
pojokPOSO
pojokDONGGALA
pojokSULTENG
bisnisSULTENG
bmzIMAGES
rindang.ID
Akurat dan Terpecaya