PALU, beritapalu.ID | Pekerja daur ulang itu berdiri sejenak di tepi Pantai Dupa, Teluk Palu. Matanya menyapu tumpukan sampah plastik, potongan kayu hanyut, dan sisa limbah rumah tangga yang menutup garis pantai hingga ke akar-akar mangrove.
“Mau mulai dari mana?” katanya pelan.
Kantong yang dibawanya jelas tak cukup menampung sampah kiriman yang datang hampir setiap hari.
Pemandangan di Pantai Dupa bukan lagi soal pantai yang kotor atau tidak sedap dipandang. Ini potret krisis lingkungan yang nyata, tepat di kawasan mangrove yang seharusnya menjadi penyangga ekosistem Teluk Palu.
Sebagian besar sampah itu bukan berasal dari pantai. Limbah datang dari daratan. Sungai-sungai yang bermuara ke Teluk Palu, angin dan arus laut membawa plastik sekali pakai, botol minuman, kemasan makanan, hingga barang rumah tangga yang terbuang.
Arus laut kemudian mengumpulkannya, menyeret sampah dari berbagai sudut termasuk dari luar, lalu menumpuknya di Pantai Dupa. Mangrove yang berfungsi melindungi garis pantai justru berubah menjadi perangkap alami bagi sampah-sampah tersebut.
Bagi warga sekitar, kondisi ini sudah lama menjadi rutinitas yang melelahkan. Setiap kali air laut pasang atau surut, gelombang sampah kembali datang. Relawan dan komunitas lingkungan sesekali membersihkan pantai, namun jumlahnya jauh lebih besar dibanding tenaga yang tersedia. Pemulung yang biasanya mencari plastik bernilai jual pun sering menyerah. Sampah terlalu tercampur dengan kayu, dan limbah organik.
Dampaknya terasa langsung. Mangrove yang tertutup sampah kehilangan fungsinya sebagai penyerap karbon dan tempat hidup biota laut. Nelayan kecil mengeluhkan hasil tangkapan yang makin tidak menentu. Anak-anak yang dulu bermain di pantai kini jarang mendekat. Pemandangan tumpukan sampah membuat Pantai Dupa terasa asing bagi warganya sendiri.
Fenomena ini memperlihatkan rapuhnya pengelolaan sampah di perkotaan. Palu, sebagai ibu kota provinsi, masih menghadapi keterbatasan fasilitas dan sistem pengolahan limbah. Sampah yang tak selesai di darat akhirnya mengalir ke laut, menjadikan Teluk Palu sebagai tempat pembuangan akhir yang tidak pernah direncanakan.
Di tengah situasi itu, masih ada upaya-upaya kecil yang memberi harapan. Komunitas lokal mulai rutin menggelar aksi bersih pantai. Sekolah-sekolah mengenalkan bahaya plastik sekali pakai kepada siswa. Pemerintah kota pun mulai membicarakan penguatan regulasi dan pengelolaan sampah dari hulu. Foto-foto dari Pantai Dupa menjadi pengingat keras bahwa laut bukan tempat membuang sisa hidup kita, dan mangrove bukan ruang menimbun limbah.
Ini tidak hanya merekam kondisi Pantai Dupa hari ini. Ia juga mengajak bercermin. Sampah kiriman di Teluk Palu adalah hasil dari kebiasaan sehari-hari yang dibiarkan terlalu lama. Jika pemulung saja kebingungan harus memulai dari mana, maka jawabannya jelas: perubahan harus dimulai dari kita sendiri, sebelum teluk ini benar-benar tenggelam oleh sampah.
View this post on Instagram
pojokPALU
pojokSIGI
pojokPOSO
pojokDONGGALA
pojokSULTENG
bisnisSULTENG
bmzIMAGES
rindang.ID
Akurat dan Terpecaya