PALU, beritapalu.ID | Muara Sungai Palu di sekitar tanggul batu gajah, dekat oprit bekas Jembatan Palu IV, dipenuhi tumpukan sampah yang terbawa arus sungai, Selasa (20/1/2026). Plastik sekali pakai, botol minuman, styrofoam, hingga potongan kayu menutupi batu-batu besar di tepi muara. Kondisi ini menciptakan pemandangan kumuh di salah satu titik strategis Kota Palu yang berhadapan langsung dengan Teluk Palu.
Tumpukan sampah tersebut mencerminkan besarnya persoalan limbah di wilayah pesisir. Data menunjukkan, timbulan sampah di Kota Palu mencapai sekitar 71.633 ton per tahun, termasuk yang bermuara di kawasan Teluk Palu. Setiap hari, volume sampah berkisar antara 150 hingga 200 ton, tergantung musim dan aktivitas warga, dengan sebagian besar akhirnya terbawa aliran sungai menuju laut.
Dominasi sampah plastik terlihat jelas di kawasan muara ini. Material yang sulit terurai itu bercampur dengan limbah domestik lainnya, mencemari perairan dan mengganggu ekosistem pesisir. Untuk mengangkut sekitar 150 ton sampah per hari saja, dibutuhkan sedikitnya 75 kendaraan pengangkut yang harus beroperasi dua kali sehari, sebuah beban besar bagi sistem pengelolaan sampah kota.
Di tengah kondisi tersebut, aktivitas warga tetap berlangsung. Beberapa orang terlihat memancing atau duduk di atas tanggul batu, seolah terbiasa dengan lingkungan yang dipenuhi sampah. Pemandangan ini menunjukkan kontras tajam antara kehidupan sehari-hari masyarakat dan kondisi ekologis kawasan yang terus terdegradasi.
Situasi ini menjadi semakin ironis karena kawasan Teluk Palu selama ini digadang-gadang sebagai salah satu objek wisata unggulan kota. Panorama teluk, garis pantai, dan letaknya yang dekat dengan pusat kota seharusnya menjadi daya tarik. Namun serakan sampah plastik dan styrofoam justru merusak citra kawasan wisata yang tengah dikembangkan.
Pemerintah daerah mencatat adanya penurunan volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir, dari sekitar 220 ton menjadi 123 ton per hari setelah diterapkannya pembatasan penggunaan plastik dan styrofoam. Meski demikian, data tersebut belum sepenuhnya tercermin di kawasan pesisir, yang masih menjadi titik akumulasi sampah akibat rendahnya kesadaran warga dan terbatasnya fasilitas pengelolaan di sepanjang aliran sungai.
Tumpukan sampah di muara Sungai Palu menjadi peringatan bahwa pengembangan pariwisata pesisir tidak bisa dilepaskan dari penanganan lingkungan yang serius. Tanpa edukasi publik, peningkatan kapasitas pengangkutan, serta kolaborasi antara pemerintah dan komunitas, kawasan yang diproyeksikan sebagai destinasi wisata ini akan terus berada dalam ketimpangan antara potensi ekonomi dan realitas ekologis yang memprihatinkan.
View this post on Instagram
pojokPALU
pojokSIGI
pojokPOSO
pojokDONGGALA
pojokSULTENG
bisnisSULTENG
bmzIMAGES
rindang.ID
Akurat dan Terpecaya