SIGI, beritapalu.ID | “Semoga harga tetap bersahabat,” ujar seorang petani tomat di Desa Porame, Kabupaten Sigi.
Di lahan yang mereka garap setiap hari, tomat-tomat merah mulai memenuhi karung. Panen sudah di depan mata.
Namun di balik itu, ada kegelisahan yang selalu menyertai: bagaimana harga di pasar nanti, sementara penjualan masih bergantung pada pedagang pengumpul yang menunggu di pinggir jalan desa.
Awal Februari 2026, pemantauan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sigi mencatat harga bahan pokok di pasar tradisional masih relatif stabil. Bagi petani tomat, kondisi ini belum tentu menguntungkan.
Mereka berharap harga ikut naik saat konsumsi rumah tangga meningkat menjelang Ramadhan. Pengalaman sebelumnya membuat mereka berhati-hati. Saat panen bersamaan, harga tomat justru sering jatuh karena pasokan melimpah dan posisi tawar petani lemah di hadapan pengumpul.
Di Porame, tomat adalah tumpuan hidup banyak keluarga. Petani bekerja sejak pagi, menanam, merawat, hingga memanen di bawah terik matahari. Jalan desa yang sudah baik sebenarnya membuka akses distribusi lebih luas.
Namun pola penjualan yang langsung ke pengumpul membuat petani sulit menentukan harga. Tomat berpindah tangan dengan cepat, sementara selisih keuntungan lebih besar dinikmati di pasar kota.
Menjelang Ramadhan, harapan mereka tidak banyak. Pemerintah daerah diharapkan membuka ruang agar petani kecil bisa menjual lebih langsung, baik ke konsumen maupun melalui koperasi.
Bagi petani Porame, tomat bukan sekadar hasil panen musiman, melainkan hasil kerja berbulan-bulan dan harapan agar bulan suci datang membawa berkah, bukan tambahan beban.
View this post on Instagram
pojokPALU
pojokSIGI
pojokPOSO
pojokDONGGALA
pojokSULTENG
bisnisSULTENG
bmzIMAGES
rindang.ID
Akurat dan Terpecaya