BisnisEditorialFeatureFotoSigi

“Semoga Harga Tomat Tetap Bersahabat”

×

“Semoga Harga Tomat Tetap Bersahabat”

Share this article
Petani memanen tomat di Desa Porame, Sigi, Kamis (5/2/2026). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)
Petani memanen tomat di Desa Porame, Sigi, Kamis (5/2/2026). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)

SIGI, beritapalu.ID | “Semoga harga tetap bersahabat,” ujar seorang petani tomat di Desa Porame, Kabupaten Sigi.

Di lahan yang mereka garap setiap hari, tomat-tomat merah mulai memenuhi karung. Panen sudah di depan mata.

Namun di balik itu, ada kegelisahan yang selalu menyertai: bagaimana harga di pasar nanti, sementara penjualan masih bergantung pada pedagang pengumpul yang menunggu di pinggir jalan desa.

Awal Februari 2026, pemantauan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sigi mencatat harga bahan pokok di pasar tradisional masih relatif stabil. Bagi petani tomat, kondisi ini belum tentu menguntungkan.

Mereka berharap harga ikut naik saat konsumsi rumah tangga meningkat menjelang Ramadhan. Pengalaman sebelumnya membuat mereka berhati-hati. Saat panen bersamaan, harga tomat justru sering jatuh karena pasokan melimpah dan posisi tawar petani lemah di hadapan pengumpul.

Di Porame, tomat adalah tumpuan hidup banyak keluarga. Petani bekerja sejak pagi, menanam, merawat, hingga memanen di bawah terik matahari. Jalan desa yang sudah baik sebenarnya membuka akses distribusi lebih luas.

Namun pola penjualan yang langsung ke pengumpul membuat petani sulit menentukan harga. Tomat berpindah tangan dengan cepat, sementara selisih keuntungan lebih besar dinikmati di pasar kota.

Menjelang Ramadhan, harapan mereka tidak banyak. Pemerintah daerah diharapkan membuka ruang agar petani kecil bisa menjual lebih langsung, baik ke konsumen maupun melalui koperasi.

Bagi petani Porame, tomat bukan sekadar hasil panen musiman, melainkan hasil kerja berbulan-bulan dan harapan agar bulan suci datang membawa berkah, bukan tambahan beban.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by beritapalu.ID (@beritapalu_id)

Editor: beritapalu
Penulis: beritapalu
Tanggal: 8 February, 2026
Pengunjung memperhatikan kain kulit kayu yang dipamerkan di Museum Sulteng, Selasa (5/5/2026). (© bmzIMAGES/.Basri Marzuki)
Feature

Selembar kain berwarna cokelat kemerahan tampak sederhana, menyimpan jejak panjang peradaban manusia di Sulawesi Tengah. Kain itu bukan ditenun dari benang, melainkan dipukul, direndam, dan diolah dari kulit kayu—sebuah teknik yang telah hidup sejak masa neolitikum dan masih bertahan hingga hari ini.