beritapalu.id
Friday, 23 Jan 2026
🌐 Network
pojokPALU pojokPALU pojokSIGI pojokSIGI pojokPOSO pojokPOSO pojokDONGGALA pojokDONGGALA pojokSULTENG pojokSULTENG bisnisSULTENG bisnisSULTENG bmzIMAGES bmzIMAGES rindang.ID rindang.ID
Subscribe
beritapalu.ID
  • HOME
  • HEADLINE
  • PALU
  • SULTENG
    • Sigi
    • Poso
    • Buol
    • Tolitoli
    • Banggai
    • Morowali
    • Donggala
    • Tojo Unauna
    • Banggai Laut
    • Morowali Utara
    • Parigi Moutong
    • Banggai Kepualuan
  • BISNIS
  • POLITIK
  • LINGKUNGAN
  • OLAHRAGA
  • INSPIRASI
  • 🌐
  • Hukum-Kriminal
  • Seni-Budaya
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Religi
  • Style
  • Region
  • Militer
  • Opini
  • Travel
  • Visual
  • Komunitas
📂 Lainnya ▼
Indeks Feature Advertorial Liputan Khusus
beritapalu.IDberitapalu.ID
Search
  • HOME
  • HEADLINE
  • PALU
  • SULTENG
    • Sigi
    • Poso
    • Buol
    • Tolitoli
    • Banggai
    • Morowali
    • Donggala
    • Tojo Unauna
    • Banggai Laut
    • Morowali Utara
    • Parigi Moutong
    • Banggai Kepualuan
  • BISNIS
  • POLITIK
  • LINGKUNGAN
  • OLAHRAGA
  • INSPIRASI
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
KomunitasPoso

Keberatan Penamaan Jembatan di Tentena, Buat Surat Terbuka Untuk Menparekraf

Published: 24 January, 2022
Share
Aksi warga sekitar Danau Poso yang menolak pembongkaran jembatan kayu Yondo mPamona beberapa waktu lalu. (foto: Masyarakat Adat Danau Poso)
SHARE
Aksi warga sekitar Danau Poso yang menolak pembongkaran jembatan kayu Yondo mPamona beberapa waktu lalu. (foto: Masyarakat Adat Danau Poso)

POSO, beritapalu | Yombu Wuri, seorang tokoh masyarakat adat Danau Poso keberatan atas penamaan jembatan Yondo mPamona yang dibangun oleh PT Poso Energy – pengelola PLTA Sulewana di Tentena, Poso, Sulawesi Tengah.

Keberatan Yombu Wuri itu beralasan, karena menurutnya nama Yondo mPamona memiliki nilai sejarah dan adat bagi masyarakat yang hidup di sekitar Danau Poso. Sedangkan jembatan yang dibangun oleh Poso Energy dan terbuat dari besi setelah membongkar jembatah kayu sebelumnya dinilai tidak memiliki arti apa-apa.

Tak itu saja, mengatasnamakan warga yang bermukim di sekitar Danau Poso, Yombu Wuri juga menyatakan keberatan atas peresmian jembatan itu oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif karena dinilai tidak sesuai dengan visi misi pengembangan pariwisata berbasis kekayaan alam dan kearifian lokal seperti sering didengungkan oleh Menteri.

Keberatan Yiombu Wuri itu dituangkan dalam sebuah surat terbuka. Berikut surat terbuka tersebut :

Kepada yang terhormat,  

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Saya, Yombu Wuri,  Warga Pamona Poso yang tinggal di tepi Danau Poso.  Saya hanya salah satu dari ribuan warga Pamona di Kabupaten Poso yang hendak  menyampaikan suara kami tentang budaya lokal dan pariwisata di Danau Poso.

Bapak Menteri, dalam banyak kesempatan selalu mengatakan bahwa pariwisata di Indonesia  akan bergerak ke arah pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan.  Bapak Menteri juga mengatakan bahwa kearifan lokal dan kekayaan alam menjadi basis  pariwisata yang bisa menciptakan ekonomi kreatif.

Sebagai orang Pamona, Poso , saya mengagumi dan sepakat dengan pemikiran bapak Mentri  tentang kearifan lokal dan kekayaan alam sebagai basis pariwisata.  Apalagi, di Kabupaten Poso kami memiliki Danau Poso yang bukan hanya memiliki keunikan  dan kekayaan alam yang luar biasa tapi juga kearifan lokal.

Mendengarkan dan belajar dari konsep pariwisata yang Bapak Menteri kembangkan saat ini,  kami merasa bahwa Danau Poso yang kami miliki bisa mendukung apa yang menjadi visi misi  Kementrian pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

BACA JUGA:  Gali Tanah untuk Tanam Pisang, Ketemunya Senpi Rakitan

Danau Poso adalah danau purba yang memiliki ikan , siput, udang endemik , dan fauna  endemik, juga memiliki tradisi budaya leluhur dalam menangkap ikan dengan cara unik seperti  mosango, wayamasapi, monyilo dan wuwu. Kami juga pernah memiliki jembatan yang  sejarahnya merupakan simbol gotong royong masyarakat di sekeliling Danau Poso.

Selama beratus tahun lamanya secara bergenerasi, kami dihidupi oleh Danau Poso.  Kebudayaan kami dibentuk oleh Danau Poso. Kami bangga akan hal itu.

Bapak Menteri yang terhormat,

Sekarang kehidupan kebudayaan kami di danau Poso satu persatu mulai hilang.  Kehidupan budaya yang hilang satu persatu ini akan mempengaruhi visi dan misi pariwisata  yang berbasis budaya lokal.

Perusahaan dengan nama PT Poso Energy telah membuat 2 bendungan PLTA dengan  menggunakan air Danau Poso. Dalam proses membuat bendungan itu, banyak kebudayaan  Danau Poso menjadi hilang. Wilayah untuk Mosango sudah tidak bisa dilakukan lagi karena  elevasi air berada pada ketinggian yang ditentukan oleh bendungan PLTA. Wayamasapi, pagar  ikan sidat dibongkar saat pengerukan sungai dan Monyilo sudah tidak bisa lagi dilakukan  karena kedalaman air.

Bapak Mentri yang terhormat,

Selama berpuluh tahun, kekayaan biota Danau Poso adalah laboratorium alami dunia yang  mendatangkan para peneliti negara. Selama bertahun-tahun, keindahan alam dan tradisi  budaya di Danau telah menjadi daya tarik utama turis asing yang datang ke Danau Poso.

Bukankah pariwisata yang berbasis budaya lokal dari kekayaan alam yang selama ini bapak  Menteri usulkan penting dikembangkan? Sekarang ini sudah mulai dihilangkan satu persatu. Salah satu yang juga sudah hilang adalah jembatan Pamona atau Yondo mPamona.  Dulu. Di hulu Sungai Poso, terbentang sebuah jembatan kayu sepanjang lebih 200 meter,  namanya Yondo mPamona.  

Jembatan ini memiliki sejarah panjang yang bermula di awal abad 20. Kala itu masyarakat di seberang timur membutuhkan jembatan penyeberangan untuk mengangkut hasil sawah dari  seberang barat. Untuk kebutuhan tersebut, mereka membangun jembatan darurat secara gotong  royong, berbahan bambu dengan atap daun Rumbia Jembatan ini dibangun secara gotong royong dengan melibatkan masyarakat – yang dalam  pembagian wilayah pemerintahan sekarang ini – dari Kecamatan Pamona Utara, Pamona  Puselemba, Pamona Barat, Pamona Selatan, Pamona Tenggara, dan Pamona Timur.

BACA JUGA:  Masewo, Mempertahankan Kearifan Lokal dan Warisan Budaya

Gotong royong yang digagas ini adalah “gotong royong total”, di mana seluruh bahan jembatan  dan biaya selama pembuatannya disiapkan oleh masyarakat desa yang dilibatkan.  Masing-masing desa diberi tanggung jawab mendirikan sekian meter jembatan yang  disesuaikan dengan jumlah warganya, dengan jenis kayu yang sudah ditentukan berdasarkan  kwalitasnya.

Masyarakat dari masing-masing desa dengan saling menyemangati berjibaku menyelesaikan  bagiannya. Semuanya dikerjakan secara manual. Mereka menebang kayu dengan kampak,  membuat balak, papan tebal dengan gergaji manual. Mereka mengangkut material jembatan  melalui darat dan air Danau

Ketika peresmiannya, digelarlah acara yang sangat meriah. Ada penggalan syair lagu yang  diciptakan sehubungan dengan peresmian tersebut yang bertutur:

Puu mboto ondae dan tentena

Dulunya satu satu skarang jadi Satu

Sebagai bukti jembatan puselemba

Bayangan kemakmuran kecamatan Pamona

Dari syair tersebut nampak jelas makna kehadiran jembatan hasil gotong royong itu sebagai  pemersatu dan simbol kemakmuran dalam arti yng luas. Jembatan tersebut dipandang sebagai  karya besar sehingga layak disebut Jembatan Puselemba.

Puselemba adalah “nama besar” bagi kawasan Tentena dan sekitarnya sebagai pusat  pemerintahan raja Rumbenunu yang berkedudukan di bukit Pamona, di mana suku pamona  dulunya bermukim dan akhirnya menyebar keberbagai wilayah di “Tana Poso”.

Bapak Menteri yang terhormat,

Pada bulan November 2019, di tengah-tengah penolakan masyarakat yang berkeberatan atas  rencana pembongkaran Yondo mPamona, karena mengingat nilai budaya yang terkandung di dalamnya, jembatan Pamona akhirnya dibongkar.  Kini pengganti jembatan itu telah selesai dibangun oleh Poso Energy.

BACA JUGA:  Dispar Sulteng Dorong Pemanfaatan Peluang Ekraf Ikan Air Tawar di Tentena

Bapak Menteri yang terhormat,

Kami mendengar, bapak Menteri akan meresmikan jembatan baru yang dibuat oleh Poso  Energy. Saya, mewakili banyak orang Pamona yang tinggal di sekeliling Danau Poso  menyatakan keberatan .

Keberatan pertama adalah penamaan jembatan sebagai Yondo mPamona. Jembatan ini  tidak layak dinamakan Jembatan Pamona/ Yondo mPamona, atau pun Jembatan Puselemba,  karena hal itu akan mereduksi nilai “Puselemba” itu sendiri.

Jembatan besi bertangga itu tidak menggambarkan apa-apa tentang apa yang ada di Tana Poso,  karena itu berilah nama yang tidak ada kaitannya dengan Tana Poso. Bagi masyarakat Pamona,  nama itu penuh makna yang menceritakan kisah, bukan hanya sekedar nama jembatan .Apalagi  jembatan ini dibongkar untuk kepentingan pengerukan.

Selain itu, bapak Menteri yang terhormat,

Peresmian jembatan yang akan dilakukan oleh bapak Menteri, tidak sesuai atau bertolak  belakang dengan visi misi pariwisata yang selama ini bapak Menteri sampaikan, yaitu berbasis  kekayaan alam dan budaya lokal .

Yondo mPamona yang sudah dibongkar ini adalah kearifan lokal masyarakat yang berdiam di  sekeliling Danau Poso.

Meresmikan jembatan yang dibuat Poso Energy dengan memberi nama Yondo mPamona akan  melukai hati masyarakat .  Memberi nama Yondo mPamona akan memanipulasi sejarah dari sebuah kearifan lokal  masyarakat.

Karena itu,

Bapak Menteri yang terhormat,

Saya dan Masyarakat Adat Danau Poso menyampaikan keberatan dan penolakan atas rencana  peresmian jembatan dengan nama Yondo mPamona.  Keberatan dan penolakan kami ini disampaikan dengan maksud menjaga ingatan dan sejarah  kearifan lokal yang pernah ada di Danau Poso, yaitu sejarah Yondo mPamona yang sarat  dengan filosofi gotong royong.

Bapak Menteri,

Bantu kami untuk bisa menjaga sejarah kearifan lokal  

Bantu kami untuk bisa menjaga ingatan atas budaya lokal

Dengarkan suara kami..

 

Editor: beritapalu

TAGGED:adatdanau posojembatanposo energypuselembasurat terbukatentenayombu wuriyondo mpamona
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp LinkedIn Email Copy Link
Previous Article Mulai Rp80 Ribu Per Bulan, Telkomsel Hadirkan Paket Halo Unlimited
Next Article Literasi Penyiaran dan Pertelevisian, IJTI Sulteng dan Unismuh Palu Kerjasama

Berita Terbaru

Tim SAR gabungan mengevakuasi dua nelayan yan hanyut setelah rompong mereka pusut di Teluk Tomini, Parimo, Kamis (22/1/2026). (©Basarnas Palu)
Parigi Moutong

Dua Nelayan yang Hanyut di Teluk Tomini Ditemukan Selamat

22 January, 2026
Evauasi korban pesawat ATR 42-500 di pegunungan Bulu Saraung, Maros, kamis (22/1/2026). (©Basarnas Makassar)
Headline

Tim SAR Temukan Enam Korban Pesawat ATR 42-500 di Puncak Bulusaraung

22 January, 2026
Evauasi pack body part di pegunungan Bulu Saraung, Maros, kamis (22/1/2026). (©Basarnas Makassar)
Headline

Tim SAR Temukan Sembilan Pack Body Part di Lokasi Kecelakaan Pesawat

22 January, 2026
Foto bersama usai coffee morning di lapangan Vatulemo Palu, Kamis (22/1/2026). (©Humas Polresta Palu)
Palu

Coffee Morning, Kapolresta Palu Perkuat Sinergi Percepatan Pembangunan

22 January, 2026
Rapat virtual bersama Direktorat Jenderal Pemasyarakatan tentang penyelenggaraan pendidikan kesetaraan bagi narapidana dan anak binaan, Kamis (22/1/2026). (©Humas Ditjenpas Sulteng)
Palu

Kanwil Ditjenpas Sulteng Dorong Pembentukan PKBM di Lapas dan Rutan

22 January, 2026

Berita Populer

Foto

10 Pemuda Cetuskan Kawasan Wisata Alam Buntiede di Desa Padende

25 October, 2021

Pelaku Pembunuhan di Taman Ria Akhirnya Ditangkap Polisi

28 July, 2021
Komunitas

Tak Ada Perempuan, Sikola Mombine “Gugat” SK Penetapan Anggota KPID Sulteng

10 January, 2022
Morowali Utara

Perahu Terbalik Dibawa Arus, Seorang Warga masih Dicari

14 December, 2021
Parigi Moutong

Banjir di Sidoan Barat Seret Seorang Warga

3 January, 2022

Logo BeritaPalu.id Akurat dan Terpecaya

Komitmen kami terhadap akurasi, netralitas, keberimbangan, dan penyampaian berita terkini telah membangun kepercayaan dari banyak audiens. Terdepan dengan pembaruan terkini tentang peristiwa, tren, dan dinamika terbaru.
FacebookLike
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow
WhatsAppFollow
LinkedInFollow
MediumFollow
QuoraFollow
- Advertisement -
bmzimages.combmzimages.com

Dapatkan Info Terbaru

Masukkan email Anda untuk mendapatkan pemberitahuan artikel baru

Berita Terkait

Foto udara pemukiman penduduk yang terendam banjir di Lhoksukon, Aceh Utara, Aceh, Selasa (26/12/2023). Berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Aceh Utara sebanyak 1.504 jiwa atau 5.583 kepala keluarga mengungsi dan 11.852 jiwa atau 40.435 kepala keluarga terdampak banjir tersebut. ANTARA FOTO/Mirza Baihaqie/Lmo/foc.
Komunitas

KIARA: Banjir Bukan Sekadar Hidrometeorologi, Tapi Ekologis Akibat Buruk Tata Kelola

beritapalu
Warga beraktivitas di dekat oprot Jembatan Palu IV, Kampung Lere, Palu, Minggu (18/1/2026). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)
Komunitas

Tolak Bongkar Oprit Jembatan Palu IV, Usulkan Jadi Cagar Budaya Kebencanaan

beritapalu
IPC bersama Sindikasi Pemilu dan Demokrasi pada konferensi pers tentang wacana pilkada. (©IPC)
Komunitas

IPC: Wacana Pilkada Tidak Langsung Langkah Mundur Demokrasi

beritapalu
Ilustrasi
Komunitas

AJI: 89 Kasus Kekerasan Jurnalis Sepanjang 2025, Polisi Pelaku Terbanyak

beritapalu
beritapalu.ID
Facebook Twitter Youtube Instagram Linkedin

About US

beritapalu.ID adalah situs berita online berbasis di Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia. UU No.40/1999 dan Kode Etik Jurnalistik adalah panduan kami. Kecepatan memang penting, tapi akurasi pemberitaan jauh lebih penting. Kami berpihak kepada kebenaran dan kemaslahatan orang banyak dan idak semua berita yang disajikan mewakili pikiran kami. 

Managerial
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontak
  • Karir
Kebijakan
  • Disclaimer
  • Kode Perilaku
  • Privacy Policy
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks Berita

Kunjungi kami di

https://bmzimages.com

© 2025 by beritapalu.ID

PT Beritapalu Media Independen
All Rights Reserved.

Copyright © 2026 beritapalu.ID | Published by PT Beritapalu Media Independen | All Rights Reserved
Halaman
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?