PARIGI MOUTONG, beritapalu.ID | Personel gabungan berhasil memadamkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Dusun 2 dan 3 Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, serta Dusun 1 Desa Uevolo, Kecamatan Siniu, Kabupaten Parigi Moutong, Minggu (8/2/2026).
Pemadaman dipimpin Danramil 1306-08/Parigi dengan melibatkan prajurit dari Korem 132/Tadulako, Kodim 1306/KP, Yonif 711/Rks, Yonif TP 873/MM yang bersinergi dengan BPBD, Tagana, Damkar, Manggala Agni, serta masyarakat lokal.
Sebanyak 349 orang personel gabungan dikerahkan dengan dukungan mobil tangki air dan mobil pemadam. Upaya pemadaman dilakukan secara manual menggunakan alat semprot dan pemadaman air, termasuk mematikan api di dalam tanah yang mengikuti akar pohon.
Dari tiga zona pemadaman, seluruhnya delapan titik api berhasil dipadamkan dan situasi terkendali. Untuk antisipasi munculnya kembali api, personel Koramil 1306-08/Parigi tetap siaga melakukan pemantauan di lokasi bekas Karhutla.
Eskalasi Kebakaran Sejak Awal Februari
Pemadaman yang berhasil ini merupakan penyelesaian dari rangkaian kebakaran yang melanda Parigi Moutong selama lebih dari seminggu. Kebakaran pertama dilaporkan terjadi pada Minggu (1/2/2026) sekitar pukul 15.00 WITA di Dusun III Desa Avolua dengan luasan terdampak mencapai 20 hektare.
Berdasarkan keterangan warga, titik api pertama muncul dari salah satu kebun milik warga di sekitar lokasi kejadian. Kondisi cuaca panas disertai angin yang cukup kencang membuat api dengan cepat menyebar ke area hutan dan semak kering di sekitarnya. Meski warga berupaya melakukan pemadaman secara manual sejak pukul 16.00 WITA, api masih belum dapat dikendalikan sepenuhnya pada malam pertama.
Seiring waktu, kebakaran terus meluas. Pada 5 Februari, kebakaran bergerak ke Desa Sakinah Jaya dan Towera, memperluas area dampak Karhutla. Asap tebal dari kebakaran mengganggu jarak pandang di wilayah Parigi Utara, memicu kekhawatiran masyarakat akan keselamatan lalu lintas dan kesehatan.
Status Siaga Satu Bulan
Merespons eskalasi kebakaran, Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong menetapkan status siaga Karhutla dan kekeringan selama sebulan, terhitung mulai 30 Januari hingga 28 Februari 2026.
Pelaksana Tugas Kepala BPBD Parigi Moutong Muhammad Rifai mengungkapkan, sepanjang awal 2026 tercatat 22 kejadian Karhutla dengan rincian 15 kasus pada Januari, lima kasus pada 1 Februari, dua kasus pada 2 Februari, dan tujuh kasus pada 3-5 Februari 2026.
“Untuk Februari saja sudah tujuh kasus. Jumlah ini sudah separuh dari total kejadian pada Januari,” ujar Rifai.
Penyebab dan Upaya Pencegahan
Hasil analisis awal menunjukkan kebakaran diduga berasal dari aktivitas pembersihan kebun kelapa dan semak kering yang dilakukan warga. Vegetasi kering, suhu udara panas, serta hembusan angin mempercepat penyebaran api ke area hutan yang lebih luas.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sulteng Andi Sembiring mengatakan, api diduga berasal dari aktivitas pembersihan kebun kelapa dan semak kering yang kemudian membesar akibat kondisi lahan yang kering. Kebakaran menghanguskan sejumlah perkebunan masyarakat, di antaranya durian, kakao, kelapa, cengkih, dan pala.
BPBD memastikan tidak ada korban jiwa maupun warga yang mengungsi akibat peristiwa Karhutla tersebut. Namun, dampak ekonomi terhadap petani lokal cukup signifikan dengan hilangnya aset perkebunan mereka.
Menghadapi kondisi darurat ini, BPBD Parigi Moutong telah memperkuat koordinasi dengan lintas sektor dan meminta bantuan empat armada tambahan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Saat ini, tiga unit mobil pemadam milik Pemkab Parigi Moutong telah dikerahkan, ditambah tim dari Kementerian Kehutanan yang juga diperbantukan.
BPBD mengimbau warga tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membakar sampah, serta tidak membuang puntung rokok sembarangan untuk mengurangi risiko kebakaran lanjutan selama status siaga berlangsung.
pojokPALU
pojokSIGI
pojokPOSO
pojokDONGGALA
pojokSULTENG
bisnisSULTENG
bmzIMAGES
rindang.ID
Akurat dan Terpecaya