PALU, beritapalu.ID | Gerimis di Kamis (2/4/2026) malam tidak menyurutkan semangat pengunjung untuk hadir di Raego Cafe, Palu untuk menyaksikan pameran “Memorabilia Hasan M. Bahasyuan”.
Acara ini dihadiri Gubernur Sulteng periode 2021-2025 Rusdy Mastura, Wabup Parigi Moutong Abdul Sahih, Kadis Pendidikan Sulteng Firmansyah, Kadis Kebudayaan Sulteng Andi Kamal Lembah, Kadis Kearsipan dan Perpustakaan Sulteng Siti Rachmi Amir Singi, Ketua Komisi Informasi Sulteng Indra Yosvidar, Ketua KONI Sulteng Fathur Razak, serta perwakilan berbagai instansi pemerintah, seniman, dan budayawan lainnya, menjadi bukti nyata bahwa warisan Hasan Bahasyuan masih hidup dan terus relevan.
Memorabilia yang Berbicara Sejarah
Pameran yang dikuratori oleh pegiat seni dan literasi Neni Muhidin menampilkan berbagai dokumentasi yang menakjubkan. Dari akte kelahiran, sertifikat penghargaan, foto-foto bersejarah, hingga dokumentasi pementasan monumental baik tingkat lokal, regional, nasional, bahkan internasional, semuanya tertata rapi dalam ruangan yang penuh makna.
Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah foto ketika almarhum Hasan Bahasyuan membawa tari Pamonte ke panggung nasional pada tahun 1957—sebuah pencapaian monumental yang menunjukkan dedikasi seorang seniman lokal berkontribusi pada panggung seni nasional.
“Apa yang dihadirkan di ruang ini bukan sekadar benda, melainkan penanda zaman, gagasan, nilai, dan semangat yang pernah hidup dan terus menunggu untuk dimaknai kembali,” ujar Zhulfikar Usman, Direktur Eksekutif HBI, dalam pengantar pameran.
Beragam karya monokrom Hasan Bahasyuan juga dipajang bersama artefak-artefak yang merepresentasikan heterogenitas Sulawesi Tengah. Setiap karya mencerminkan bagaimana seorang maestro mengolah rasa dan menciptakan karya yang lahir dari spirit tradisi lokal dengan perspektif kontemporer yang tetap menjaga akarnya.

Dua Puluh Tahun Merawat Warisan
Kurator Neni Muhidin dalam paparannya mengungkapkan komitmen HBI yang konsisten. Sejak tahun 2007, organisasi ini telah merancang beragam platform untuk menghadirkan karya-karya Hasan Bahasyuan ke dimensi yang lebih segar, baru, dan luas.
“HBI telah menunjukkan komitmen yang tidak kalah gigihnya dibandingkan kiprah Hasan Bahasyuan sendiri dalam mempromosikan seni dan budaya lokal,” kata Neni.
Upaya HBI bukan sekadar mengarsipkan dokumen, melainkan bagian penting dari misi melestarikan dan mengembangkan warisan budaya Sulawesi Tengah untuk generasi mendatang. Melalui berbagai pertunjukan, diskusi, dan advokasi, HBI terus menghidupkan semangat sang maestro.
Mimpi Rumah Budaya yang Belum Terwujud
Namun, ada nuansa sedih yang mewarnai pertemuan tersebut. Tiga belas tahun lalu, pada tahun 2013, muncul gagasan untuk membangun Rumah Budaya “Hasan Bahasuan Culture House”. Rencana monumental ini pernah mendapat restu dari Almarhum Wakil Gubernur Sudarto, namun hingga saat ini belum terwujud sepenuhnya.
“Sayangnya, rencana ini masih menunggu realisasi konkret. Namun, semangat untuk tetap menghidupkan warisan Hasan Bahasyuan terus kami jaga melalui berbagai kegiatan dan dokumentasi,” ungkap Neni dengan nada berharap.
Ketiadaan Rumah Budaya ini terasa seperti hutang yang belum lunas kepada maestro yang telah berjasa bagi peradaban seni Sulawesi Tengah.
Antusiasme Pejabat dan Dukungan Konkret
Pameran ini memantik dukungan nyata dari para hadirin. Kadis Kebudayaan Sulteng Andi Kamal Lembah mengusulkan langkah konkret: mendirikan museum keluarga khusus untuk almarhum Hasan Bahasyuan agar dokumen-dokumen bernilai tinggi ini lebih terjaga dan dapat diakses oleh publik yang lebih luas.
Kadis Pendidikan Sulteng Firmansyah terenyuh saat menyadari bahwa lagu-lagu dan tari yang sering didengar dan dimainkan semasa kecilnya adalah hasil karya maestro Hasan Bahasyuan. “Kita akan mengusahakan agar ini bisa masuk dalam kurikulum Pendidikan seni kita,” katanya dengan penuh komitmen.
Sementara itu, Wabup Parigi Moutong Abdul Sahih memberikan jaminan lebih tegas. “Taman Bahasyuan yang kini sudah ada di Parigi Moutong akan tetap menjadi tanggung jawab Pemda Parigi Moutong. Kami berharap akan lebih banyak lagi kegiatan yang bisa menginspirasi agar semangat Hasan Bahasyuan lebih membumi terutama di kalangan generasi muda,” ujarnya.

Siapa Hasan Bahasyuan?
Hasan Bahasyuan memulai perjalanan keseniannya sejak duduk di bangku Sekolah Rakyat (SR) pada tahun 1939, di tengah masa pendudukan Jepang. Seorang anak dari Parigi yang penuh semangat, ia menjadi peniup suling pendek dalam sebuah kelompok musik bambu dan sekaligus memimpin kelompok musiknya.
Ketika Nusantara bergolak dengan perjuangan kemerdekaan, Hasan Bahasyuan tidak hanya menjadi seniman, tetapi juga pejuang. Pada awal 1945, dia terlibat aktif dalam pergerakan kemerdekaan dengan bergabung bersama Barisan Keamanan Rakyat (BKR). Setelah kemerdekaan berhasil diraih, dia kembali ke seni.
Perjalanan karir keseniannya mengalami evolusi. Tahun 1946 dia bergabung dengan Kelompok Hawaian Band sebagai vokalis dan pemain ukulele. Kemudian, pada 1947, dia membentuk Orkes Keroncong bernama “Irama Seni” di Parigi, di mana dia menjadi pemimpin, vokalis, dan pemain biola hingga 1963.
Hasan Bahasyuan juga dikenal sebagai seorang atlet lari jarak menengah. Namun, passion utamanya tetap kesenian. Ketika dia hijrah ke Kota Palu pada 1965, dia memulai karir baru sebagai pelatih dan pemimpin band “Nada Anda” (kemudian berubah nama menjadi “Band Risela”) hingga 1970.
Perjuangan Melestarikan Tradisi di Era Modernisasi
Titik balik penting dalam karir Hasan Bahasyuan terjadi saat dia melihat maraknya penetrasi budaya pop dan kesenian modern yang berakar pada budaya Barat. Kekhawatiran bahwa kesenian dan tradisi lokal dengan segala kearifannya mulai tergusur membuat dia gelisah dan prihatin.
Perasaan inilah yang mendorong Hasan Bahasyuan untuk melakukan eksplorasi mendalam terhadap kebudayaan dan kesenian tradisi masyarakat Sulawesi Tengah. Hasil dari dedikasi ini adalah serangkaian karya cipta dalam bentuk komposisi musik dan tari yang tetap menghormati akar tradisi sambil memberikan perspektif baru.
Pada 1971, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah menunjuknya sebagai Pelatih Tari dan Pemimpin Band Ananta. Tanggung jawab ini dipikul dengan sepenuh hati hingga dia memasuki masa pensiun pada 1981, dengan jabatan terakhir sebagai Kepala Urusan Pengelolaan Seni Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud Provinsi Sulawesi Tengah.
Bahkan setelah pensiun, Hasan Bahasyuan tetap terlibat dalam dunia kesenian hingga menghembuskan nafas terakhirnya pada 22 Mei 1987. Dia meninggalkan istri Ellya Al Amri, anak tunggal Shaiful Bahri, dan warisan monumental yang tak ternilai.
Catatan menunjukkan bahwa semasa hidupnya, Hasan Bahasyuan menciptakan 51 lagu daerah Sulawesi Tengah dan 33 jenis tari. Setiap karya membawa spirit tradisi, setiap notasi musik menceritakan kisah budaya, dan setiap gerakan tari merepresentasikan hati rakyat Sulawesi Tengah.
Ingatan yang Menjelma Inspirasi
Pameran yang diadakan menjelang momentum penting Sulawesi Tengah—hari jadi provinsi yang diperingati setiap 13 April sejak tahun 1964—memberikan kesempatan berharga untuk mengingatkan kembali kontribusi para tokoh seni dalam perjalanan sejarah.
Zhulfikar Usman, dalam harapannya menutup acara, mengucapkan: “Kiranya melalui pameran ini, ingatan tidak berhenti sebagai kenangan melulu, melainkan menjelma menjadi inspirasi, menuntun langkah generasi dalam merawat dan memajukan kebudayaan Sulawesi Tengah ke masa depan.”
Pengunjung yang datang dengan hujan terus menerus di luar, perlahan-lahan meninggalkan ruangan pameran dengan hati yang tenyuh. Mereka membawa inspirasi, bukan sekadar kenangan tentang seorang maestro, melainkan tangung jawab untuk meneruskan semangat Hasan Bahasyuan dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya.
Dengan seribu dokumen dan artefak yang tertata di Raego Cafe, Palu, warisan Hasan Bahasyuan terus berbicara. Mengingatkan bahwa budaya bukan milik masa lalu, melainkan fondasi untuk masa depan yang lebih bermakna dan berakar.
pojokPALU
pojokSIGI
pojokPOSO
pojokDONGGALA
pojokSULTENG
bisnisSULTENG
bmzIMAGES
rindang.ID
Akurat dan Terpecaya