PALU, beritapalu.ID | Teluk Palu yang tenang tiba-tiba riuh oleh deru mesin. Setelah tujuh tahun sunyi, bentangan beton sepanjang 250 meter itu akhirnya dilintasi.
Jembatan Palu IV, pengganti “jembatan kuning” legendaris yang tersapu gempa dan tsunami 28 September 2018, perlahan mulai menghembuskan napas. Kendaraan pun bergerak satu per satu dalam uji coba perdana.
Dari pukul 16.00-18.00 Wita, ratusan mobil dan motor bergantian melintasi badan jembatan selebar 12 meter itu. Di balik kaca, terpancar wajah-wajah yang tak bisa menyembunyikan haru. Banyak dari mereka yang tujuh tahun lalu menyaksikan langsung jembatan kuning—simbol kota itu—ambruk diterjang gelombang.
Kehilangan yang terasa bukan sekadar putusnya akses, tetapi terbelahnya ingatan kolektif warga Palu.
“Selama ini kami harus memutar jauh,” ujar Andi, seorang sopir angkot yang sejak siang menunggu di ujung jembatan. “Kalau jalur ini terbuka, perjalanan dari sisi barat ke timur bisa dipangkas hampir setengah jam.”
Setelah proses rekonstruksi sejak 2022, jembatan yang dibangun dengan dana hibah Japan International Cooperation Agency (JICA) senilai lebih dari Rp200 miliar ini akhirnya memasuki tahap akhir.
Menurut Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Sulawesi Tengah, seluruh konstruksi telah memenuhi standar keselamatan tertinggi. Uji coba hari ini menjadi pintu terakhir sebelum peresmian resmi pada Jumat, 13 Februari 2026.
Jembatan Palu IV tidak hanya sekadar penghubung dua daratan. Ia adalah janji kebangkitan—bagian dari rangkaian elevated road yang diharapkan bisa mengurai kemacetan kronis di Kota Palu.
Saat matahari mulai terbenam di teluk, gerbang jembatan kembali ditutup. Tapi di udara masih tersisa senyum lega warga. Beberapa hari lagi, jembatan ini tak lagi cuma menghubungkan dua sisi geografis, tapi juga merajut kembali memori kota yang pernah patah, menuju masa depan yang lebih tegak.
View this post on Instagram
pojokPALU
pojokSIGI
pojokPOSO
pojokDONGGALA
pojokSULTENG
bisnisSULTENG
bmzIMAGES
rindang.ID
Akurat dan Terpecaya